Ketua PLT DPW APKASINDO Provinsi Sulawesi Tenggara “Fauzi Sadinur,Memfasilitasi Keluhan Warga Di Kementerian

Caption: Foto bersama dengan Pengurus apkasindo sultra, poktan sawit, Disbun horti Prov sultra dan DTPHP Konsel

 

Kendari, Aspiranews.id – warga masyarakat Sulawesi Tenggara khususnya petani kelapa sawit di 3 (Tiga) kabupaten Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) berencana akan menyerahkan data kebun kelapa sawitnya ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK),melalui Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia ( APKASINDO) karena dinyatakan masuk dalam kawasan hutan sehingga belum dapat melakukan peremajaan kelapa sawit (PSR) meski produksi rendah,Senin(8/01/24).

Pengajuan lahan warga petani sawit juga lantaran adanya penyampaian dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto beberapa waktu lalu pada kegiatan Pekan Nasional (PENAS) Sawit tgl 6-8 Desember di hotel Paragon, jakpus yang memberikan waktu untuk penyelesaian keterlanjuran kebun kelapa sawit dalam kawasan hutan.ungkap Fauzi.

Baca Juga:  Polres Jember Melalui "SIBERBI",agar  Dekat dan Bersahabat Buat Warga

Lanjut, Fauzi Sadinur mengatakan, ketiga kabupaten tersebut yakni Konawe,Konawe Selatan dan Kabupaten Bombana. Dimana dari dua kabupaten ini terkumpul seluas 1.100 hektar lebih kebun kelapa sawit masuk dalam penunjukkan kawasan hutan.

“Ini merupakan langkah kita agar petani kelapa sawit di dua kabupaten itu mendapat bantuan dan dukungan untuk tetap berbudidaya kelapa sawit di lahannya tersebut,” tuturnya.

Fauzi mengatakan bahwa kebun tersebut adalah tempat bergantung petani untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Sedikitnya kebun ini berasal dari 7 kecamatan yakni Kecamatan, Basala, Benua, Kolono, Konda,Abuki, Poleang Timur dan kecamatan Mata usu.

Namun seribuan hektar lebih kebun kelapa sawit itu hingga kini belum dapat dilakukan peremajaan melalui program PSR yang ditawarkan BPDPKS.

Baca Juga:  Mutasi Jabatan Wakapolres Nganjuk, Kasat Lantas dan Kapolsek, Kapolres Nganjuk: Buat Inovasi yang Menunjang dan Raih Prestasi

Memang, kata Fauzi, kebun tersebut belum masuk usia peremajaan, karena saat ini tanaman sawit milik pekebun masih berusia 12-18 tahun. Namun produksinya rendah karena saat penanaman dulu tidak menggunakan bibit unggul.

“Harapan status lahan milik pekebun bisa lolos PSR, sehingga dapat mendongkrak hasil yang lebih maksimal karena bibit yang ditanam dalam program PSR BPDPKS berasal dari bibit unggul dari produsen resmi. Saat ini tanaman sawit milik pekebun di Sulawesi tenggara didominasi oleh tanaman sawit varietas Dura. Harapan kami ke depannya pekebun teredukasi untuk lebih memilih bibit unggul, Dengan begitu maka kesejahteraan petani lebih terjamin dengan hasil yang melimpah,” ujarnya.

Liputan : (Shl/team)

Baca Juga:  Bupati Pohuwato "Saipul Mbuinga" Dukung Penuh Pelaksanaan Rapimnas dan HUT I PJS

Pos terkait