Caption : Inilah Kader Dekat PKB Diusung untuk Pimpin PBNU,
BANDUNG BARAT, ASPIRANEWS.ID – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang rencananya digelar akhir 2024, dinamika internal organisasi mulai memanas. Sorotan utama tertuju pada upaya mengembalikan hubungan antara Pengurus Besar NU (PBNU) dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ke arah yang lebih harmonis, setelah beberapa tahun diwarnai ketegangan politik.
Analisis terhadap peta pergerakan kader dan elite NU menunjukkan munculnya sejumlah nama dari kalangan yang dekat dengan PKB sebagai bakal calon Ketua Umum PBNU. Empat figur yang paling banyak disebut adalah KH. Abdul Salam Shohib (Gus Salam) dari Jombang, KH. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) dari Magelang, KH. Imam Jazuli dari Cirebon, dan KH. Zulfa Mustofa (Gus Zulfa) yang merupakan Wakil Ketua Umum PBNU periode sebelumnya. Mereka dinilai memiliki modal kuat, baik berupa legitimasi kultural, jaringan pesantren yang luas, maupun posisi strategis dalam struktur.
Latar belakang dari manuver politik ini adalah persepsi kuat di sebagian kalangan nahdliyin bahwa kepemimpinan PBNU saat ini di bawah KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) telah menjauhkan NU dari PKB, partai yang secara historis lahir dari rahim organisasi ini. Ketegangan yang mencapai puncaknya dalam beberapa tahun terakhir memicu keinginan untuk menciptakan kepemimpinan baru yang dipandang lebih mampu merajut kembali sinergi antara kedua entitas.
Muktamar NU yang akan datang tidak hanya akan menentukan arah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia untuk lima tahun ke depan, tetapi juga menjadi arena pertarungan pengaruh politik yang krusial. Proses ini akan menguji soliditas hubungan antara institusi keagamaan (jam’iyyah) dengan partai politik (siyasah) di tubuh warga nahdliyin.
Dengan demikian, pilihan terhadap Ketua Umum PBNU yang baru akan menjadi sinyal jelas apakah relasi NU dan PKB akan terus membaik atau justru kembali mengalami ujian. Hasilnya akan berdampak signifikan tidak hanya bagi internal NU, tetapi juga bagi peta politik nasional Indonesia,(Swr).






