Caption : PNIB mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan
BANYUWANGI, JATIM – ASPIRANEWS.ID – Ramadhan pada hakikatnya merupakan bulan untuk menahan hawa nafsu melalui ibadah puasa. Umat Islam di seluruh Nusantara menyambutnya dengan berbagai tradisi yang beragam, namun memiliki tujuan yang sama, yakni memohon keberkahan Allah SWT di bulan penuh hikmah dan ampunan, Kamis (19/02/26).
Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal), menegaskan bahwa Ramadhan adalah momentum penyucian lahir dan batin.
“Umat Islam mendapat keistimewaan selama satu bulan untuk mensucikan diri melalui ibadah puasa Ramadhan. Bulan istimewa ini seharusnya dimanfaatkan untuk menahan diri dari berbagai agenda yang tidak bermanfaat. Hentikan propaganda khilafah dan radikalisme di media sosial. Stop provokasi negara khilafah dari mimbar ke mimbar. Ini demi menghormati bulan suci Ramadhan,” jelas Gus Wal saat diwawancarai awak media.
Sebagai organisasi kemasyarakatan yang mengusung nilai kebhinekaan serta menolak intoleransi, radikalisme, dan terorisme, PNIB menilai perjuangan melawan paham khilafah dan ideologi transnasional tidak boleh berhenti, termasuk di bulan Ramadhan. Menurut Gus Wal, pihaknya masih menemukan berbagai bentuk provokasi intoleransi dan radikalisme yang marak beredar di tengah masyarakat, baik melalui media sosial maupun platform digital lainnya.
Ia juga mengingatkan agar perbedaan penentuan awal puasa antara warga Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah tidak dimanfaatkan untuk memecah belah persatuan.
“Seperti tahun-tahun sebelumnya, ada pihak-pihak yang memanfaatkan momentum keagamaan untuk menyebarkan intoleransi. Perbedaan awal puasa yang seharusnya menjadi rahmat justru dijadikan bahan adu domba oleh kelompok berideologi transnasional,” lanjutnya.
PNIB mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk menghormati bulan Ramadhan secara konsisten, dengan menahan diri tidak hanya dari lapar dan dahaga, tetapi juga dari amarah serta tindakan yang merugikan orang lain.
“Mari kita saling mengingatkan agar berbagai perilaku negatif bisa dihentikan selama Ramadhan. Yang biasa korupsi berhenti, mafia kasus hentikan gratifikasi, bandar narkoba hentikan transaksi. Ini bagian dari penghormatan kita terhadap bulan suci,” ujar Gus Wal.
Selain itu, PNIB juga menekankan pentingnya toleransi terhadap warga yang tidak menjalankan ibadah puasa. Mereka meminta aparat penegak hukum, termasuk Polri dan TNI, bersikap tegas terhadap aksi sweeping warung atau rumah makan yang tetap beroperasi selama Ramadhan.
“Jangan ada lagi sweeping terhadap warung atau rumah makan. Justru tindakan anarkis seperti itu yang merusak kesakralan Ramadhan. Ramadhan bagi bangsa Indonesia harus menjadi ajang memperkuat nilai perjuangan, toleransi, dan moderasi beragama,” pungkasnya.
Di akhir pernyataannya, PNIB mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan kepada umat Islam yang menjalankan, seraya berharap bangsa Indonesia tetap menjadi bangsa yang santun, bersatu, berbudaya, dan menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika di tengah derasnya arus globalisasi.
(SWR)






