Caption : Ketum PNIB salut mahasiswa dari BEM UGM menjadi bukti bahwa daya intelektual dan sikap kritis mahasiswa masih ada, Jum’at (20/02/26).
SURABAYA – JATIM, ASPIRANEWS.ID – Pernyataan Ketua BEM UGM, Tyo Ardianto, yang mengkritisi persoalan MBG secara tajam ramai diperbincangkan publik. Keberanian mahasiswa dari kampus calon pemimpin bangsa di masa depan tersebut seolah menjawab keraguan publik terhadap kiprah mahasiswa yang belakangan ini kerap diidentikkan dengan aksi demonstrasi semata, Jum’at (20/02/26).
“Suara mahasiswa dari BEM UGM menjadi bukti bahwa daya intelektual dan sikap kritis mahasiswa masih ada. Mengkritik kebijakan MBG dengan gaya mahasiswa yang kritis tidak bisa dijadikan dasar untuk melecehkan institusi. MBG yang kemudian dipelesetkan menjadi anekdot ‘Maling Berkedok Gizi’ mengindikasikan adanya potensi korupsi dalam program tersebut. Mahasiswa dengan idealisme dan daya kritisnya tentu tidak asal bicara, karena mereka berbasis pada fakta,” ungkap AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal), Ketua Umum Ormas kebhinekaan lintas agama, budaya, dan tradisi Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB).
Menurutnya, mahasiswa kerap menjadi barometer atas gejolak yang muncul dari sebuah kebijakan pemerintahan. Program MBG yang dinilai kontroversial di tengah masyarakat pun mendapat respons negatif dari kalangan mahasiswa.
“Sesuai amanah konstitusi, anggaran pendidikan adalah 20 persen dari total APBN. Program MBG yang mengambil anggaran pendidikan jelas melanggar konstitusi. Dampaknya adalah terganggunya jaminan beasiswa seperti KIP, PIP, dan LPDP, ketidakjelasan gaji guru honorer, serta mangkraknya perbaikan bangunan sekolah yang rusak. Efisiensi yang digembar-gemborkan pemerintah justru berlaku pada kebijakan yang menyangkut pembiayaan masyarakat. Seharusnya efisiensi dilakukan pada gaji dan tunjangan pejabat, penghapusan gaji pensiunan anggota dewan, serta pembatasan biaya perjalanan dinas pejabat,” imbuh Gus Wal.
Gus Wal juga menyerukan dukungan kepada mahasiswa yang disebutnya tengah berjuang di garis rakyat, terutama dalam mengkritisi MBG dan potensi korupsi oligarki.
“Untuk kepentingan oligarki dibentuklah MBG. Namun perlu diingat, kata ‘gratis’ sesungguhnya menyakitkan rakyat. Semua dana kebijakan berasal dari pajak rakyat dan sudah sewajarnya kembali kepada rakyat. Jangan lagi membohongi rakyat dengan istilah kebijakan gratis jika pada akhirnya pajak meningkat dan penunggak pajak yang tidak mampu diburu seperti penjahat. MBG bukan ajang bancakan anggaran. Aparat penegak hukum jangan menutup mata hanya karena ini dekat dengan kepentingan kekuasaan,” tegasnya.
PNIB, lanjut Gus Wal, menyatakan dukungan penuh terhadap perjuangan mahasiswa di berbagai daerah, termasuk BEM UGM, yang dinilai berani memperjuangkan kepentingan rakyat.
“Jangan pernah takut terhadap teror dan intimidasi, karena itu adalah risiko perjuangan. Kami bersama kalian dalam menyuarakan kegelisahan rakyat yang kerap terjebak dalam sistem dan manipulasi. Karena kita bersatu, Indonesia akan tetap ada dalam kondisi apa pun,” ujarnya.
Ia menegaskan, apa yang dilakukan dan disuarakan Tyo Ardianto bersama BEM UGM, kelompok mahasiswa, serta elemen masyarakat lainnya dalam mengkritisi MBG merupakan hal yang wajar dalam ruang penyampaian aspirasi di negara demokrasi seperti Indonesia. Sikap tersebut dinilai sebagai wujud cinta dan kepedulian terhadap rakyat, pemerintah, dan negara.
(SWR)






