Oleh : Abbet Nugroho M.A.P
(Seniman, Budayawan & aktivis Kebangsaan, Sekjend PNIB Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu)
MAGELANG – JATENG, ASPIRANEWS.ID – Petani, kemandirian tanpa Validasi
Dalam ruang lingkup kehidupan, pertanian merupakan salah satu faktor penentu dalam menjaga kelangsungan peradaban sebuah bangsa. Seorang petani sayuran di lereng gunung Merbabu jika dilihat sekilas hanya menjalankan keseharian bercocok tanam menanam bijih sayur mayur merawatnya setiap hari, memberi pupuk dan nutrisi dan ketika saatnya panen di jual ke pasar dan uangnya diputar kembali untuk memenuhi kehidupan selama 3-4 bulan dia bekerja di ladang 11 Maret 2O26
Untuk mempertahankan hidup dan bisa mencukupi kebutuhan lainya, para petani gunung rela untuk tirakat tidak nongkrong di cafe, blusukan di mall tiap weekend, atau healing healing biar terkesan bahagia. Cara makan mereka juga seadanya, ngramban ( memetik sayur di pekarangan rumah/ ladang ) dengan sambel korek , ikan asin dan tahu tempe bacem, sesekali dengan mie instan rebus yang mereknya populer di lidah mereka, hal ini adalah cara paling efektif dalam mengatur saldo rumah tangga dan memastikan tetap bisa makan hingga masa panen depan tiba.
Untuk para perempuan ngunung, mereka juga rela untuk tampil ndeso karena mungkin belum pernah merasakan perawatan di salon kecantikan terkenal dan serum wajah yang harganya mahal agar nampak glowing. Pakaian dan kerudung kadang juga dalam perspektif warna yang tidak lazim, tetapi mereka tetap percaya diri dan hanya fokus pada pekerjaannya bukan mencari sorak Sorai dan selebrasi di dunia nyata atau juga media sosial.
Hal ini membutuhkan keteguhan hati dan jiwa yang luas, seolah konsep nrimo ing pandum itu memang tidak pernah hilang dari prinsip kehidupan mereka. Jika dinilai pada tingkatan spiritual, mereka sesungguhnya berada pada level yang sangat tinggi, karena keadaan ini hanya bisa dilakukan oleh orang orang yang hatinya bersih dan tidak gila validasi. Mengapa ? Karena sejatinya mereka sangat mampu, mereka sangat kaya, dan mereka sangat bisa jika mau sekedar meniru kehidupan ala kota , klimis, wangi, baju model, sibuk upload di sosmed dan edit wajah di hp agar banyak orang kagum akan kecantikannya.
Dari sini kita bejalar bahwa petani adalah orang orang yang sangat tangguh dan berdedikasi terhadap tugasnya, kita bisa membayangkan jika para petani di lereng- lereng gunung mogok kerja dan berhenti mengolah tanah, apa yang akan terjadi ?
Falsafah Pacul
Salah satu problem bangsa ini adalah makin tercerabutya generasi sekarang terhadap akar budaya. Dalam pengertian budaya yang luas, budaya merupakan cara orang mbudi daya kehidupan ini dengan cipta, rasa dan karsa. Cipta memungkinkan orang untuk berkreasi dan menciptakan sesuatu yang bisa mendukung kehidupanya rasa adalah menyelaraskan pikiran, hati dan semesta, sedangkan karsa adalah pengejawantahan dan praktik nyata mewujudkan sebuah ide dan gagasan. Dalam sistem mata pencaharian, para leluhur berhasil menciptakan cangkul/ pacul.
Pacul sendiri merupakan alat pertanian yang sangat penting bagi para petani, saking pentingnya pacul ini juga menjadi alat wajib bagi setiap petani.
Saat penyebaran agama Islam masuk ke tanah Jawa, alat alat pertanian ini juga tidak luput menjadi simbol dan spirit dakwah bagaimana agama bisa dicintai dan dikenal oleh para petani. Kanjeng Sunan Kalijaga memfalsafahkan pacul sebagai perkoro papat ojo nganti ucul. Nampaknya seperti keroto boso biasa, namun ternyata memiliki makna yang dalam yakni, dalam hidup kita harus menjaga 4 indera penting dalam kehidupan,
Jika empat hal ini lepas dari kendali (kebijaksanaan), pemimpin akan kehilangan kehormatan di gambarkan orang gundul yang tidak memiliki mahkota kehidupan.
Mata: Digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.Telinga: Digunakan untuk mendengar keluhan rakyat dan nasehat para agamawan .Hidung: Digunakan untuk mencium dan merasakan penderitaan rakyat., sedangkan Mulut: Digunakan untuk berkata mengatakan kejujuran, keadilan dan kebijaksanaan. Hal ini masih sangat relevan menjadi kritik sosial yang dikemas dalam sebuah lagu gundul gundul pacul yang diciptakan berabad abad lalu oleh Njeng Sunan Kalijaga ( 1450-1580M )untuk mengingatkan para pemimpin agar tidak berlaku gembelengan dalam menjalankan amanat rakyat berupa kesejahteraan sosial.
Mengapa Kanjeng Sunan Kalijaga mengambil pacul sebagai contoh gerakan moral, karena petani adalah kekuatan sebuah peradaban, petani adalah penopang berdirinya sebuah bangsa, petani adalah kehidupan, kita mungkin masih bisa hidup tanpa internet, namun tidak bisa hidup tanpa makanan.
Mengingat sebuah peristiwa heroik yang juga pernah terjadi di tanah Jawa pada tahun 1629, saat raja Mataram, Sultan Agung menyerang Batavia dari VOC. Pada Serangan pertama gagal karena minimnya pasokan logistik, wabah penyakit dan tidak seimbangnya persenjataan. setelah dilakukan evaluasi, hal krusial yang dilakukan sebelum para prajurit berperang kembali adalah bertani, menanam bahan pangan sebagai pemenuhan kebutuhan logistik dalam peperangan di jalur Pantura, meski akhirnya lumbung lumbung padi ini juga terendus dan akhirnya di hancurkan oleh VOC.
Indonesia dalam Geopolitik Internasional
Indonesia adalah negara yang berprinsip bebas dan aktif, artinya Indonesia tidak memihak blok kekuatan dunia tertentu (bebas) dan proaktif menciptakan perdamaian dunia serta memperjuangkan kepentingan nasional (aktif). secara konstitusional tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 alinea keempat. Prinsip ini ditegaskan sebagai landasan dalam melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, dan secara operasional diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri.
Sebagai negara netral, saat ini kita memang sedang tidak dalam mode siaga peperangan imbas konflik perang Iran – Israel dan Amerika, namun tidak ada salahnya kita kembali belajar dari sejarah bahwa penentu keberlangsungan kehidupan sebuah peradaban selain persatuan dan kesatuan adalah bahan pangan. Banyak rakyat Indonesia pesimis dan mencibir, saat negara-negara lain berlomba lomba dalam pembuatan rudal dan teknologi Alutsista, kita masih sibuk ngurusi Ompreng MBG. Sebagai bangsa yang besar, dalam posisi geopolitik internasional, presiden Prabowo memilih untuk mengambil prinsip ” satu musuh terlalu banyak, seribu kawan terlalu sedikit”, yang memiliki implikasi menjadikan negara Indonesia tidak akan terlibat secara langsung dalam peperangan jika memang tidak ada ancaman serius pada kedaulatan negara Republik Indonesia. Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi perdamaian, meski bukan berarti bangsa penakut. Indonesia hanya akan mengambil sikap tegas jika kedaulatannya terancam.
Ompreng MBG dan perang dunia
Sebagai warga negara, saya kadang juga membayangkan jika perang dunia benar benar terjadi, bagaimana ekonomi akan berjalan, sekarang saja baru terjadi pembatasan penutupan selat Hormuz, para pakar dan ekonom sudah mewanti wanti akan terjadi gejolak harga di semua sektor yang dipengaruhi karena berkurangnya pasokan energi berupa minyak dunia dari Timur Tengah. Penulis menilai, tidak berlebihan jika dalam kacamata seorang militer seperti Bapak Prabowo Subianto akhirnya memilih program yang tidak populis seperti
Food Estate (Lumbung Pangan), yakni program pengembangan pertanian terpadu dari tingkat hulu ke hilir, yang mencakup perluasan lahan sawah, jagung, dan komoditas pangan lainnya. Ada juga program Cetak Sawah (1 Juta Hektar): Bagian dari proyek strategis di Merauke yang didukung Instruksi Presiden (Inpres) No. 14 Tahun 2025 untuk memperkuat swasembada pangan nasional. Program selanjutnya adalah Pendirian koperasi Desa Merah Putih, program ini bertugas memastikan bahwa di tingkat desa, koperasi menjadi pos penjaga keamanan pangan warga, nantinya juga akan di selaraskan menjadi penyuplai bahan pokok utama dari Program MBG.
Jika program ini benar benar bisa terwujud, maka Indonesia akan berada dalam mode aman dalam soal pangan, jika sewaktu-waktu perang dunia ke 3 benar benar terjadi, setidaknya kita sudah mempersiapkan bekal lebih awal, dibantu ribuan dapur umum yang siap untuk mensuplai makanan untuk masyarakat. Kita memang tidak menginginkan peperangan benar benar terjadi, tetapi bukan tidak mungkin ancaman itu akan terjadi dalam waktu cepat atau lambat. Jadi mari kita apresiasi program ini, berikan waktu presiden bekerja, pada saatnya rakyat Indonesialah yang akan merasakan manfaatnya. Anak anak Indonesia yang kini sedang disiapkan gizinya aman dan tercukupi merupakan modal besar bangsa dalam menjemput Masa depan Bangsa yang lebih gemilang.
Dalam mensikapi persoalan MBG, kita dituntut juga harus adil, masih ingatkah kita beberapa tahun yang lalu, sebelum ada MBG, harga sayuran anjok, hasil pertanian, telur dan daging tidak terserap di pasaran, bahkan susu banyak di buang, karena melemahnya daya beli masyarakat, maka munculah gagasan bagaimana mensejahterakan para petani dan peternak, salah satunya dengan membuat dapur MBG untuk menyerap hasil pertanian dan peternakan para petani. MBG mungkin tidak berharga dimata orang yang ekonominya mampu, namun kenyataan dilapangan, di Indonesia masih banyak rakyat yang untuk sekedar makan saja susah, maka kita harus membantu pemerintah agar program ini bisa tepat sasaran.
Dalam beberapa kasus MBG yang viral akhir akhir ini, Kita boleh marah atas ulah SPPG-SPPG nakal yang mengambil untung dari program ini, namun bukan berarti program MBG nya yang salah, apalagi yang di hujat Presidenya. Indonesia sangat mampu membiayai program ini, pemerintah tidak mungkin tidak punya perhitungan matang tentang program ini, jangan mudah tergiring opini dan framing negatif tentang MBG, kritisi seperlunya, pilah akar persoalannya dimana dan sampaikan dan laporkan jika terjadi penyelewengan program oleh mitra / SPPG, jangan bersikap tangan kanan menerima MBG, namun jarinya juga digunakan untuk menghasut orang lain untuk membenci program ini. Sebagai rakyat yang baik, kita harus waspada adanya kelompok kelompok yang memusuhi pemerintah, menggunakan program MBG ini sebagai amunisi untuk kepentingan politik mereka.
Jangan ya dik ya…..
Oleh :Abbet Nugroho M.A.P(Penulis adalah seniman, budayawan & aktivis Kebangsaan).(swr)






