“Mei Harus Jadi Momentum Aksi Nyata Kebangkitan Nasional dan Persatuan Bangsa”,Ajak PNIB.

Caption : PNIB mengajak Mei ini bukan hanya penanda kalender sejarah namun Mei adalah pengingat bahwa bangsa ini pernah bangkit melawan keterbelakangan dan ketidakadilan, Sabtu (2/5/26).

 

SURABAYA – JATIM, ASPIRANEWS.ID  – Ketua Umum Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB), AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal), menegaskan bahwa bulan Mei harus dimaknai sebagai momentum strategis untuk mengimplementasikan nilai-nilai Kebangkitan Nasional sekaligus merefleksikan semangat Reformasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,Sabtu (2/05/26).

Menurutnya, Mei tidak sekadar menjadi penanda kalender sejarah atau momen peringatan seperti Hari Buruh, Hari Pendidikan Nasional, dan Hari Kebangkitan Nasional. Lebih dari itu, Mei merupakan titik refleksi kolektif bangsa dalam memperkuat persatuan di tengah berbagai tantangan sosial, politik, dan kebangsaan yang terus berkembang.

Baca Juga:  Berawal dari iseng Aris Persetiawan pangestu di kenal Arpangess Asal Jawa Kini Jadi Content Creator Video Alam Papua

Mei adalah pengingat bahwa bangsa ini pernah bangkit melawan keterbelakangan dan ketidakadilan. Semangat itu tidak boleh berhenti sebagai seremonial, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata,” ujar Gus Wal.

PNIB menilai semangat Kebangkitan Nasional yang lahir dari kesadaran kolektif anak bangsa perlu terus dirawat. Hal ini penting, terutama dalam menghadapi potensi disintegrasi, polarisasi, konflik identitas di ruang publik, hingga berkembangnya paham radikal yang dapat mengganggu keutuhan bangsa.
Lebih lanjut, Gus Wal menegaskan bahwa Reformasi yang diperjuangkan sejak 1998 bukan hanya soal perubahan sistem politik, tetapi juga upaya membangun kesadaran baru tentang pentingnya keadilan, keterbukaan, dan penghormatan terhadap keberagaman.
Reformasi bukan sekadar pergantian rezim, tetapi membangun budaya yang lebih adil, terbuka, dan menghargai perbedaan,” tegasnya.

PNIB pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali menggelorakan semangat persatuan sebagai fondasi utama menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perbedaan suku, agama, maupun pandangan politik, menurutnya, harus menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.
Persatuan bukan berarti seragam, tetapi kemampuan untuk tetap berdiri bersama di tengah perbedaan,” lanjutnya.

Di tengah dinamika global dan tantangan internal, PNIB juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab agar demokrasi tidak justru melahirkan konflik baru.
Menutup pernyataannya, Gus Wal menegaskan bahwa momentum Mei harus menjadi titik tolak untuk memperkuat komitmen kebangsaan serta mendorong terwujudnya Indonesia yang adil, setara, dan berdaulat.
Jangan biarkan semangat Kebangkitan Nasional dan Reformasi hanya menjadi slogan. Saatnya dibuktikan melalui kerja nyata demi Indonesia yang kuat, bersatu, dan beragam,” pungkasnya.
(SWR)

Pos terkait