Caption : Koordinator BEM PTNU DIY Tegar Pradana menilai polemik ini tidak terlepas dari adanya kesalahpahaman
YOGYAKARTA , ASPIRANEWS.ID –
Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (BEM PTNU DIY) melalui Koordinator Wilayah, Tegar Pradana, angkat bicara terkait polemik pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, yang menuai perhatian publik.
Polemik mencuat setelah pernyataan tersebut dikaitkan dengan insiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur. Sejumlah warganet mempertanyakan relevansi isu gender dalam konteks keselamatan transportasi, yang dinilai lebih membutuhkan perhatian pada aspek teknis dan sistemik.
Tegar Pradana menilai polemik ini tidak terlepas dari adanya kesalahpahaman terhadap maksud pernyataan Menteri PPPA. Menurutnya, jika dilihat dalam perspektif nilai keislaman, hal tersebut dapat dipahami melalui Surah An-Nisa ayat 34 tentang tanggung jawab laki-laki dalam melindungi perempuan, yang dimaknai sebagai tanggung jawab moral dan sosial secara luas.
Meski demikian, BEM PTNU DIY menegaskan bahwa fokus utama yang tidak boleh terabaikan adalah perbaikan sistem keselamatan transportasi. Perdebatan yang berkembang dinilai berpotensi mengaburkan persoalan mendasar yang menyangkut keselamatan publik.
Ia juga menyoroti masih adanya perlintasan kereta tanpa palang pintu, bahkan di wilayah yang tergolong maju seperti Bekasi. Kondisi ini dinilai sebagai bentuk kelemahan sistemik yang berpotensi membahayakan masyarakat.
BEM PTNU DIY mendorong pemerintah dan pemangku kebijakan untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari peningkatan infrastruktur, penguatan pengawasan, hingga edukasi publik. Keselamatan masyarakat, tegasnya, harus menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
(SWR)





