Caption : KH Imam Jazuli Lc., M.A,sebagai salah satu figur potensial menjelang Muktamar ke-35 Nahkodai Nahdlatul Ulama (NU)
CIREBON / JABAR , ASPIRANEWS.ID –
3 Juli 2026,Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) di Desa Cisaat, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, menjadi salah satu contoh transformasi pesantren modern yang memadukan kekuatan tradisi dengan tata kelola profesional. Di balik perkembangan pesantren tersebut berdiri KH Imam Jazuli, Lc., M.A., ulama kelahiran 17 November 1976 yang kini mulai diperbincangkan sebagai salah satu figur potensial menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada Agustus 2026.
Latar belakang keilmuan KH Imam Jazuli dinilai menjadi salah satu modal penting. Selain ditempa tradisi salaf di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, ia juga menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, serta melanjutkan studi pascasarjana di Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universiti Malaya. Perpaduan pengalaman pesantren dan wawasan global tersebut membentuk karakter kepemimpinan yang mampu menjembatani tradisi keislaman dengan tantangan zaman modern.
Di bawah kepemimpinannya, Pesantren BIMA berkembang pesat. Berawal dari pengembangan Ponpes Al-Ikhlas Tegal Koneng pada 2012, kini BIMA memiliki ribuan santri dengan sistem pendidikan yang mengintegrasikan ilmu keislaman, teknologi, dan manajemen modern. Berdasarkan data Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU Jawa Barat, pada tahun ajaran 2025 pesantren tersebut menerima 2.522 santri baru, menjadikannya salah satu pesantren dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia.
KH Imam Jazuli juga dikenal sebagai penggerak modernisasi pesantren. Melalui Imam Jazuli Foundation, ia menginisiasi program Transformasi Pesantren Nasional dengan memberikan pelatihan kepada para pengasuh pesantren dari berbagai daerah mengenai digitalisasi, tata kelola kelembagaan, hingga penguatan ekonomi pesantren. Menurutnya, fasilitas pendidikan yang memadai, penguasaan bahasa asing, serta kurikulum berstandar internasional merupakan investasi penting agar santri mampu bersaing di tingkat global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Menjelang Muktamar ke-35 NU, langkah KH Imam Jazuli dinilai semakin matang. Selain memiliki pengalaman sebagai pengurus PCINU Mesir dan pernah menjabat Wakil Ketua RMI PBNU periode 2010–2015, ia juga telah memenuhi persyaratan kaderisasi organisasi melalui Pendidikan Menengah Kader Nahdlatul Ulama (PMKNU). Di ruang publik, ia dikenal aktif menyampaikan gagasan mengenai penguatan kemandirian organisasi, pentingnya menjaga Khittah NU, serta menempatkan Syuriyah sebagai rujukan utama dalam pengambilan kebijakan organisasi.
Dengan rekam jejak kepemimpinan, pengalaman organisasi, dan berbagai gagasan yang ditawarkan, nama KH Imam Jazuli kini masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU yang diperhitungkan menjelang Muktamar ke-35 NU. Perjalanan menuju kursi kepemimpinan tertinggi NU memang masih akan ditentukan oleh dinamika muktamar, namun kiprah dan kontribusinya selama ini menjadi modal penting dalam menawarkan arah kepemimpinan NU memasuki abad kedua perjalanan organisasi.
(SWR)





