Merawat Kemanusiaan, Menyalakan Peradaban, Menjaga Jembatan Persaudaraan

Refleksi 73 Tahun KH. Said Aqil Siradj

 

SURABAYA – JATIM, ASPIRANEWS.ID –
3 Juli 2026,Di tengah dunia yang semakin sibuk mempertahankan identitas dan kepentingan kelompok, sosok KH. Said Aqil Siradj justru menghadirkan teladan berbeda. Selama perjalanan hidup dan pengabdiannya, beliau konsisten mengajarkan bahwa yang paling penting bukanlah membangun tembok perbedaan, melainkan merawat nilai-nilai kemanusiaan dan membangun jembatan persaudaraan. Memasuki usia ke-73 tahun pada 3 Juli 2026, yang patut dirayakan bukan sekadar pertambahan usia, melainkan jejak pengabdian seorang ulama yang menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam sekaligus memperkokoh persatuan bangsa.

Selama berkhidmah di Nahdlatul Ulama maupun dalam berbagai ruang kebangsaan, KH. Said Aqil Siradj menunjukkan bahwa tugas ulama tidak hanya menjaga ajaran agama, tetapi juga merawat persatuan, membangun harmoni, dan memastikan agama menjadi sumber harapan, bukan pemicu perpecahan. Bagi beliau, organisasi hanyalah sarana, sedangkan nilai, akhlak, dan kemanfaatan bagi sesama merupakan tujuan utama yang harus terus diperjuangkan.

Baca Juga:  Polres Malang Sukses Tekan Peredaran Narkoba Selama Operasi Tumpas Semeru 2023

Pemikiran tersebut terasa semakin relevan di tengah kehidupan masyarakat yang kerap diwarnai polarisasi, fanatisme, dan pertentangan identitas. KH. Said Aqil Siradj menawarkan jalan kebangsaan yang berpijak pada moralitas, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Islam dipahami sebagai rahmatan lil ‘alamin yang menghadirkan kasih sayang, menghargai keberagaman suku, agama, budaya, maupun pilihan politik sebagai kenyataan yang harus dikelola dengan hikmah, dialog, dan keadilan.

Pandangan itu juga tercermin dalam komitmen beliau menjadikan kebangsaan sebagai bagian dari pengabdian keagamaan. Mencintai Indonesia bukanlah bertentangan dengan iman, melainkan ikhtiar menjaga amanah Allah agar manusia dapat hidup damai dalam keberagaman. Keteladanan Rasulullah SAW yang menempatkan kemanfaatan bagi sesama sebagai ukuran kemuliaan menjadi landasan utama dalam seluruh orientasi dakwah dan pengabdian KH. Said Aqil Siradj.

Baca Juga:  Hasil Musda, Rian Terpilih Secara Aklamasi Sebagai Ketua DPD PJS Kepri

Karena itu, beliau senantiasa menegaskan pentingnya menyatukan ilmu dan akhlak agar kemajuan bangsa tidak kehilangan arah moral.
Warisan terbesar KH. Said Aqil Siradj bukan semata jabatan yang pernah diemban, melainkan nilai-nilai yang terus hidup: keberanian menempatkan kemanusiaan di atas kebencian, persaudaraan di atas permusuhan, akhlak di atas ambisi, serta keadilan di atas kepentingan. Di usia ke-73 tahun ini, bangsa Indonesia kembali diingatkan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh siapa yang paling lantang mengusung identitas, melainkan oleh mereka yang setia menjaga persaudaraan dan menghadirkan nilai-nilai agama dalam kehidupan bersama.
“Selamat ulang tahun ke-73 kepada KH. Said Aqil Siradj. Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan kesehatan, umur yang penuh keberkahan, serta kekuatan untuk terus menebarkan ilmu, akhlak, dan kasih sayang bagi Indonesia. Sebab, seorang ulama akan dikenang bukan karena panjangnya masa jabatan, melainkan karena cahaya keteladanan yang ditinggalkannya bagi generasi penerus.

Penulis: Sudarsono Rahman
(Wakil Ketua Umum DPP Barikade Gus Dur, Mantan Ketua PW IPNU Jawa Timur (1988–1992), serta Pencetus Maklumat Cheng Hoo 2026 bersama Forum Aktivis NU Jawa Timur)

Pos terkait