Workshop Pengasuh Ponpes Angkatan Ke 7 Se-Indonesia Oleh Kyai Imjaz

Caption : Workshop Pengasuh Ponpes angkatan ke-VII ini diikuti oleh 360 pengasuh pesantren dari Jawa Timur dan Daerah Khusus Jogjakarta digelar, Sabtu (11/7/2026).

 

 

CIREBON -JABAR, ASPIRANEWS.ID – 
Meski workshop berjalan 14 jam lebih, dari jam 8.00 hingga 22.30, tapi seluruh peserta tetap antusias mengikuti jalannya kegiatan di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2 Cirebon.

Workshop angkatan ke-VII ini diikuti oleh 360 pengasuh pesantren dari Jawa Timur dan Daerah Khusus Jogjakarta yang digelar pada Sabtu (11/7/2026).

Menurut catatan panitia, dari 5000 peserta yang ditargetkan, workhsop kali ini sudah mencapai 55% lebih atau sebanyak 2.800 pengasuh pesantren yang memiliki 100 hingga 3000 santri.

peserta yang sudah mengikuti yaitu seluruh pengasuh pesantren dari Jabar, Banten, DKI, dan Jateng, Jatim, dan Lampung, sedangkan untuk luar Jawa, meliputi Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, Bali, NTB, NTT dan Papua akan dimulai minggu depan hingga Agustus.

Baca Juga:  Tim Reaksi Cepat Polres Malang Evakuasi Warga Sesak Nafas Saat Mudik Lebaran

Di segmen puncak, KH. Imam Jazuli, Lc.MA selaku narasumber tunggal membongkar strategi, tip, dan trik merebut peluang beasiswa perguruan tinggi ke berbagai negara dan masuk PTN dalam negeri.

“Dari pengalaman Bina Insan Mulia menghantarkan 70% lulusan ke 16 negara di dunia di kampus-kampus internasional dan 30% ke PTN terdepan di dalam negeri, ada pengalaman yang bisa saya share dengan para pengasuh pesantren,” ungkapnya.

Menurut Kiai Imam Jazuli, materi dalam segmen puncak menjadi bagian terpenting dalam transformasi pesantren. Hasil transformasi pesantren harus bisa dilihat dan dibuktikan melalui out-put yang dihasilkan.

“Ketika out-put-nya jelas, maka kepercayaan masyarakat terhadap pesantren juga semakin kuat yang berdampak pada meningkatnya kuantitas santri. Masyarakat saat ini bertanya lulusan pesantren ini bisa melanjutkan ke perguruan tinggi mana saja?” jelasnya.

Perubahan masyarakat tersebut, menurut pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, perlu direspons positif oleh pesantren. Sebab, ketika seorang santri dapat melanjutkan ke perguruan tinggi terbaik, di dalam maupun di luar negeri, maka peluangnya untuk mengisi peranan pembangunan lebih besar. Di samping itu, santri juga memiliki senjata yang lebih bagus untuk mewujudkan kesejahteraan hidup.

Baca Juga:  Jelang Pemilu 2024 Polda Jatim Himbau Masyarakat Tidak Mudah Terprovokasi Hoaks dan Fitnah

“Jangan sampai lulusan pesantren hanya mampu menempati posisi marjinal dalam pembangunan sehingga kurang berdampak bagi perubahan Indonesia. Lebih celaka lagi, jika pesantren tidak banyak mengubah kemiskinan di kehidupan para santri,” tegas Kiai Imam Jazuli.

Karena itu, “janganlah pengasuh pesantren mendorong para santri untuk menjadi ustadz atau kiai seperti dirinya. Lalu melanjutkan ke jurusan keagamaan. Boleh, tapi maksimal 5-10%. Jangan semuanya. Ini bahaya!” serunya.

Melalui workshop pengasuh pesantren ini, Kiai Imjaz mendorong, menggandeng, dan memimpin transformasi pesantren untuk bisa merebut peluang masuk PTN dan beasiswa luar negeri di jurusan-jurusan yang dibutuhkan pembangunan Indonesia, seperti persenjataan, teknologi digital, kedokteran, atau pertambangan.

“Strategi, tip, dan trik sudah saya paparkan semua, tinggal menunggu satu hal untuk melakukan transformasi, yaitu nyali keberanian para kiai,” tegasnya.

Baca Juga:  Rutinan Reuni 89 MTSN Tanjunganom Kabupaten Nganjuk

Kiai Wahyudi dari Ngawi mengaku sangat tercerahkan dengan berbagai strategi yang dibongkar Kiai Imam Jazuli di saat hampir semua lembaga menganggap resep keberhasilannya harus dirahasiakan.

Bagi Kiai Fahmi dari Jogjakarta, semua langkah transformasi yang ia dapatkan sangat relevan dengan solusi yang ia butuhkan untuk mengatasi problem dan merebut peluang, terutama peluang ke Mesir, China, dan Rusia.

Selaku ketua panitia, Ubaydillah Anwar menyampaikan fokus dari workshop ini adalah bagaimana meningkatkan kuantitas santri melalui peningkatan kualitas pendidikan dengan cara transformasi. “Transformasi bukan sekedar memperbaiki bagian-bagian tertentu, tetapi perubahan fundamental,” jelasnya.

Ketika ditanya soal pendanaan, Ubaydillah menyampaikan bahwa semua bersumber dari Imam Jazuli Foundation (IJF).

“Lembaga ini memang sejak awal fokus pada beasiswa para santri berprestasi, pengembangan dai, dan kegiatan transformasi pesantren,” pungkasnya.

(SWR)

Pos terkait