Menjemput Takdir Sejarah, Cirebon Dinilai Kian Kuat Jadi Tuan Rumah Muktamar Ke-35 NU

Caption : Kunjungan Silaturahmi Menteri Sosial RI sekaligus Ketua Muktamar NU dengan pengasuh pondok pesantren Bina Insan Mulia Cirebon di pondok pesantren Bina Insan Mulia CirebonSelasa (26/05/26).

 

 

CIREBON – JABAR, ASPIRANEWS.ID — Kunjungan Menteri Sosial RI sekaligus Ketua Muktamar NU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, ke Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon dan pertemuannya dengan pengasuh pesantren, KH Imam Jazuli, dinilai bukan sekadar agenda silaturahmi biasa. Pertemuan tersebut disebut menjadi sinyal kuat menguatnya peluang Cirebon sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama setelah PCNU Cirebon Raya resmi mengajukan diri menjadi penyelenggara forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia itu,Selasa(26/05/26).

Dalam perspektif politik organisasi, kehadiran Gus Ipul di Cirebon dipandang sebagai langkah strategis PBNU untuk membaca kesiapan wilayah yang akan menjadi pusat perhelatan akbar NU. Di sisi lain, komitmen KH Imam Jazuli yang menyatakan siap membantu secara total, termasuk dukungan akomodasi dan konsumsi peserta, menunjukkan bahwa Cirebon tidak hanya hadir dengan proposal administratif, tetapi juga kesiapan sosial dan kultural yang kuat.
Pertemuan kedua tokoh tersebut dinilai mempertemukan dua kekuatan penting, yakni otoritas struktural PBNU dan kesiapan kultur pesantren Cirebon. Dari pertemuan itu muncul pertanyaan reflektif, mengapa Cirebon dianggap layak menjadi tuan rumah Muktamar NU. Jawabannya tak lepas dari posisi historis Cirebon sebagai salah satu pusat perkembangan Islam Nusantara yang memiliki akar kuat dengan tradisi Nahdlatul Ulama.

Baca Juga:  Warga Masyarakat Dan Pemdes Desa Ambesea Panen Raya Jagung Tongkol Dua,seluas 4 Hektar

Cirebon dikenal sebagai kota santri dengan jaringan pesantren tua dan berpengaruh seperti Buntet, Babakan, Gedongan, hingga Balarante yang selama puluhan bahkan ratusan tahun melahirkan ulama, pejuang, dan kader NU. Selain itu, keberadaan jejak dakwah Sunan Gunung Jati menjadikan Cirebon memiliki nilai spiritual yang kuat dalam sejarah penyebaran Islam moderat dan berbasis kebudayaan di Nusantara.

Secara historis, Cirebon juga memiliki hubungan erat dengan perjuangan NU. Nama besar seperti KH Abbas Abdul Jamil dikenal sebagai tokoh penting dalam Resolusi Jihad, sementara KH Abdul Chalim tercatat sebagai salah satu pendiri dan sekretaris pertama Tanfidziyah NU. Fakta tersebut memperkuat posisi Cirebon sebagai salah satu mata air perjuangan dan perkembangan organisasi Nahdlatul Ulama sejak masa awal berdirinya.

Baca Juga:  Mengenal Wahyudi, Videografer Asal Pontianak

Selain faktor sejarah dan kultur, kesiapan infrastruktur Cirebon juga menjadi nilai tambah yang dinilai realistis untuk penyelenggaraan Muktamar NU. Letaknya yang strategis di jalur tengah Pulau Jawa didukung akses Tol Trans Jawa, jalur kereta nasional, hingga keberadaan Bandara Internasional Kertajati. Ditambah jaringan hotel, penginapan, dan pesantren yang mampu menampung ribuan peserta, Cirebon dinilai memiliki modal lengkap untuk menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU. Dukungan itu membuat banyak pihak optimistis, Muktamar NU dapat kembali digelar di tanah para santri yang selama ini menjadi bagian penting dari denyut Islam Nusantara.(Swr).

Pos terkait