KH Imam Jazuli Gagas Revolusi Transformasi 5.000 Pesantren, Pengasuh dari 34 Provinsi Digembleng Sepanjang 2026

Caption : Kegiatan Workshop pengasuh Pesantren Se- wilayah lll Cirebon digelar di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2 Cirebon, Sabtu (23/5/2026).

 

CIREBON, JABAR, ASPIRANEWS.ID – Sebuah gerakan besar untuk mentransformasi wajah pendidikan pesantren di Indonesia resmi dimulai dari Cirebon. Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli, menggagas program nasional yang menargetkan 5.000 pengasuh pesantren dari 34 provinsi mengikuti workshop pengembangan dan inovasi pesantren sepanjang tahun 2026.

Program yang digagas melalui Pesantren Bina Insan Mulia bersama Imam Jazuli Foundation itu bukan sekadar pelatihan biasa. Kegiatan tersebut dirancang sebagai langkah percepatan transformasi sistem pendidikan pesantren, mulai dari tata kelola kelembagaan, pelayanan santri, hingga strategi pengembangan pesantren agar lebih adaptif menghadapi tantangan zaman.

Workshop perdana digelar di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2 Cirebon, Sabtu (23/5/2026), dan diikuti 108 pengasuh pesantren dari wilayah Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu yang lolos seleksi panitia.
Menurut KH Imam Jazuli, kebutuhan transformasi pesantren saat ini semakin mendesak. Pesantren, kata dia, tidak cukup hanya mempertahankan tradisi keilmuan, tetapi juga harus mampu membangun sistem pendidikan yang relevan dengan perkembangan masyarakat dan kebutuhan generasi masa depan. Ia menyebut, banyak peserta workshop sebelumnya mengaku mendapatkan dampak signifikan terhadap perubahan pesantren yang mereka asuh. Karena itu, program tahun ini disusun lebih sistematis, detail, dan membumi, bahkan disertai pendampingan lanjutan agar proses perubahan berjalan lebih terukur.

Baca Juga:  Patroli Blue Light Gabungan Sat Samapta dan Sat Lantas Ciptakan Situasi Aman dan Tentram

Dalam enam sesi materi yang berlangsung sejak pagi hingga malam hari, KH Imam Jazuli menekankan pentingnya keberanian pesantren untuk beradaptasi terhadap perubahan. Ia mengingatkan bahwa banyak organisasi besar di dunia runtuh bukan karena perubahan itu sendiri, melainkan karena gagal merespons perubahan dengan strategi yang tepat.
“Pesantren harus belajar dari runtuhnya korporasi besar dunia yang gagal merespons perubahan dengan cepat. Kematian organisasi bukan karena perubahan, tetapi karena kegagalan strategi dalam menghadapi perubahan,” tegasnya.

Materi workshop tidak hanya berisi motivasi, tetapi juga membahas strategi praktis pengembangan pesantren, penyusunan kurikulum yang menarik, peningkatan layanan kepada santri dan wali santri, hingga teknik membangun kepercayaan masyarakat agar jumlah santri terus bertambah. Program transformasi ini dijadwalkan berlangsung setiap pekan hingga akhir Desember 2026. Untuk Pulau Jawa, panitia menargetkan sekitar 2.000 peserta dengan kuota rata-rata 400 pengasuh pesantren per provinsi.

Baca Juga:  Gantikan Syamsuar, Presiden Jokowi Lantik Edy Nasution Sebagai Gubernur Riau

Khusus Jawa Barat, sebanyak 400 pengasuh pesantren ditargetkan mengikuti workshop hingga awal Juni 2026 sebelum diperluas ke Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Banten mulai Juni hingga Agustus.
Sementara itu, untuk luar Pulau Jawa, setiap provinsi diproyeksikan mengirimkan 100 hingga 150 peserta sehingga total peserta nasional diperkirakan mencapai 5.000 pengasuh pesantren. Menariknya, seluruh biaya kegiatan ditanggung penuh penyelenggara. Peserta memperoleh fasilitas transportasi, akomodasi, sertifikat, buku panduan, hingga kesempatan mendapatkan berbagai doorprize seperti menginap di hotel, wisata religi Walisongo, hingga perjalanan luar negeri.

Respons peserta terhadap workshop perdana pun sangat positif. Pengasuh Pesantren Akmala Sabila, KH Habib Khaerussani, mengaku selama ini pembahasan perubahan pesantren yang ia ikuti lebih banyak berisi motivasi semata. Namun dalam workshop tersebut, dirinya mendapatkan panduan teknis yang jelas dan terukur untuk melakukan perubahan demi kemajuan pesantren yang diasuhnya.

Hal senada disampaikan KH Asep Abdul Aziz yang menilai workshop tersebut membuka perspektif baru tentang cara membangun sistem pendidikan dan strategi pengembangan santri secara lebih modern. Sementara KH Ence Burhanuddin menyebut seluruh materi yang disampaikan sangat aplikatif dan langsung menyentuh persoalan yang dihadapi pesantren.
Isinya daging semua. Penyampaiannya menarik, berbasis fakta, data riset, pengalaman, dan langsung mengarah pada solusi,” ujarnya.

Gerakan transformasi pesantren yang dimulai dari Cirebon ini mendapat dukungan berbagai tokoh dan pejabat daerah, termasuk jajaran Kementerian Agama serta pengurus NU di wilayah Ciayumajakuning. Mereka menilai inisiatif KH Imam Jazuli menjadi langkah strategis untuk memperkuat daya saing pesantren sekaligus menjaga relevansinya sebagai pusat pendidikan Islam di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
Bagi pengasuh pesantren di seluruh Indonesia yang berminat mengikuti workshop ini, pendaftaran Peserta juga dapat melakukan konfirmasi melalui WhatsApp ke nomor 087720080569 (Ustadz Abd Rahman) atau 085321006000 (Ustadz Hasyim). Adapun syarat peserta yakni pengasuh pesantren yang memiliki santri mukim minimal 100 hingga 1.000 santri, dan kehadiran wajib diikuti langsung oleh pengasuh pesantren tanpa diwakilkan karena berkaitan dengan kebijakan strategis pesantren.
pesantrenbima.com
(SWR

Pos terkait