Caption : Para Tokoh Pengurus besar Nahdlatul Ulama (PBNU) diskusi siapa yang layak jadi Ketua NU
REMBANG – JATENG, ASPIRANEWS.ID –Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama, berbagai aspirasi dari kalangan warga Nahdliyin terus mengemuka mengenai figur-figur yang dinilai layak memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada periode mendatang. Salah satu aspirasi tersebut disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmu Asy’Syar’i (MIS) Sarang Rembang, KH Muhammad Baihaqi (Gus Beqi),Selasa (07/07/26).
Menurut Gus Beqi, dinamika yang berkembang di akar rumput menunjukkan bahwa banyak warga Nahdliyin menghendaki hadirnya kepemimpinan PBNU yang mampu memadukan kapasitas keilmuan, keteladanan akhlak, pengalaman organisasi, serta kemampuan menjaga persatuan jam’iyah dan jamaah Nahdlatul Ulama.
“Aspirasi yang banyak kami dengar dari warga Nahdliyin terutama dari santri kultural menginginkan duet KH Asep Saifuddin Chalim sebagai Rais ’Aam Syuriyah PBNU dan KH Imam Jazuli sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU. Kombinasi ini dinilai dapat menghadirkan keseimbangan antara kepemimpinan ulama dan kepemimpinan organisatoris dalam mengabdi kepada Nahdlatul Ulama,” ujar Gus Beqi.
Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi Nahdlatul Ulama, posisi Rais ’Aam merupakan supremasi tertinggi kepemimpinan organisasi yang bertugas menjaga arah keagamaan, manhaj, serta khittah perjuangan NU. Sementara Ketua Umum Tanfidziyah menjalankan roda organisasi dengan tetap berpedoman pada arahan Rais ’Aam serta para masyayikh.
Selain pasangan tersebut, Gus Beqi menyebut terdapat sejumlah nama lain yang juga dinilai memiliki kapasitas apabila mendapat amanah sebagai Rais ’Aam. Di antaranya adalah Buya KH Said Aqil Siradj, KH Kafabihi Mahrus, KH Roghib Mabrur Sarang, KH Muhammad Zaim Lasem, sementara Untuk Ketua Umum atau Ketua Tanfidziyah PBNU Gus Abdul Salam Shohib, Gus Yusuf Chudlori, dan Gus Muhaimin Iskandar (Gus Imin).
“Nama-nama tersebut dikenal sebagai kiai-kiai sepuh yang zuhud, faqih, alim, serta memiliki dedikasi panjang dalam mengawal ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Sosok Rais ’Aam PBNU harus benar-benar menjadi rujukan moral, keilmuan, dan kebijaksanaan bagi seluruh warga NU,” katanya.
Untuk posisi Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, lanjutnya, sosok yang dibutuhkan adalah santri tulen yang memiliki loyalitas tinggi terhadap jam’iyah, mampu mengonsolidasikan organisasi hingga tingkat ranting, serta siap berkhidmat sepenuhnya kepada warga Nahdliyin dengan menjalankan arahan Rais ’Aam dan para Masyayikh Pondok Pesantren NU.
“Kepemimpinan NU harus dibangun di atas semangat khidmah, bukan semata-mata kontestasi. Yang terpenting adalah bagaimana PBNU ke depan mampu memperkuat ukhuwah, menjaga marwah organisasi, memperkokoh moderasi beragama, serta terus menjadi benteng Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang membawa kemaslahatan bagi bangsa dan negara,” tegasnya.
Gus Beqi berharap Muktamar NU berlangsung dengan penuh kesejukan, menjunjung tinggi musyawarah, serta menghasilkan kepemimpinan terbaik yang diterima seluruh warga Nahdliyin. Menurutnya, siapa pun yang nantinya terpilih harus mampu menjaga persatuan, mengedepankan nilai-nilai keulamaan, serta melanjutkan tradisi khidmah yang selama ini menjadi kekuatan utama Nahdlatul Ulama, pungkasnya.
(SWR)






