Caption :Kirab Merah Putih PNIB di Jombang, Peringati Kemerdekaan RI Ke-81 dan Sambut Muktamar NU,Minggu(16/08/26).
JOMBANG /JATIM, ASPIRANEWS.ID – Ormas lintas agama, budaya, kebhinekaan, serta gerakan antiintoleransi, radikalisme dan terorisme Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) menggelar Kirab Merah Putih di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Minggu (16/8/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan ratusan anggota PNIB, santri, pesilat Pagar Nusa, Padepokan Lingpasraga, Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) Jawa Timur, serta masyarakat Jombang.
Kirab dimulai dari kawasan Monumen Ringin Contong menuju Alun-Alun Jombang dengan membawa kain bendera Merah Putih sepanjang sekitar 300 meter. Rombongan menempuh perjalanan sekitar 4 kilometer dengan berjalan perlahan, sehingga menarik perhatian dan mendapat apresiasi dari masyarakat yang menyaksikan di sepanjang jalan.
Ketua Umum PNIB sekaligus penggagas kegiatan, AR Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal, mengatakan kirab tersebut digelar untuk memperingati Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 sekaligus menyambut Muktamar NU ke-35 yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.
“Kirab kali ini untuk memperingati hari sakral Proklamasi 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan bangsa. Selain itu, juga dalam rangka menyambut Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang, kota santri,” ujar Gus Wal kepada awak media usai kegiatan.
Menurutnya, pemuda dan santri memiliki peran yang sangat penting dalam perjalanan bangsa, baik pada masa lalu, masa kini maupun masa depan.
Ia juga menyebut kegiatan Kirab Merah Putih tersebut menjadi bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap masyarakat Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menurutnya sedang mengalami musibah gempa bumi.
“Duka Flores NTT adalah duka kami dan duka seluruh Indonesia. Kirab ini juga menjadi bentuk solidaritas, empati dan simpati kepada saudara-saudara kita di Flores, NTT,” katanya.
Gus Wal juga mengingatkan kembali peran para ulama dan kiai dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia hingga lahirnya Proklamasi 17 Agustus 1945. Ia menyebut semangat “Jas Merah” dan “Jas Hijau” sebagai pengingat agar generasi bangsa tidak melupakan sejarah dan jasa para ulama.
“Jas Merah, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah, dan Jas Hijau, Jangan Sekali-kali Hilangkan Jasa Ulama. Ini menjadi pengingat pentingnya peran para pendahulu dan pendiri bangsa,” ujarnya.
Menurut Gus Wal, generasi muda perlu terus mendapatkan pemahaman sejarah agar tidak mudah terpengaruh oleh ideologi yang dinilai dapat mengancam persatuan bangsa.
“Ini menjadi spirit utama kirab kali ini, bukan sekadar gebyar dan ramai-ramai saja,” imbuhnya.
Pada kesempatan itu, PNIB juga mengingatkan masyarakat mengenai bahaya intoleransi, radikalisme, anarkisme, premanisme dan terorisme yang dinilai dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.
“Intoleransi adalah ibu kandung dari aksi radikalisme, anarkisme, terorisme dan premanisme. Semua merupakan musuh rakyat yang tidak terlihat, tetapi nyata terjadi. Ancaman disintegrasi bangsa muncul dari perilaku tersebut apabila dibiarkan tumbuh subur,” tegas Gus Wal.
Ia mengajak masyarakat Jombang dan Jawa Timur untuk terus menjaga kerukunan, keamanan lingkungan dan persatuan, terlebih menjelang pelaksanaan Muktamar NU ke-35.
“Jombang dan Jawa Timur harus tetap kondusif dengan saling menjaga tetangga, menjaga kampung dan menjaga persatuan. Momentum Muktamar nanti menjadi ajang pembuktian kerukunan dan keharmonisan para Nahdliyin di bulan kemerdekaan ini,” katanya.
Gus Wal juga menekankan besarnya peran pemuda dalam momentum menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Ia merujuk pada peristiwa Rengasdengklok ketika kelompok pemuda mendesak Soekarno-Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Selain itu, ia menyoroti peran santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah Proklamasi, termasuk dalam rangkaian perjuangan yang kemudian berujung pada Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
“Peran santri tidak kalah heroiknya dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang saat itu baru seumur jagung. Salah satunya ditandai dengan peristiwa 10 November di Surabaya, yang didahului Resolusi Jihad yang difatwakan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari,” paparnya.
Melalui Kirab Merah Putih tersebut, PNIB juga menyampaikan desakan kepada pemerintah agar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 semakin ditegaskan sebagai momentum fundamental dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta menjadi bagian penting dalam penguatan pilar kebangsaan.
“Momentum peringatan 81 tahun kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia ini semoga menjadi pengingat agar negara, bangsa dan rakyat Indonesia merdeka 100 persen. Merah Putih 100 persen, merdeka dari korupsi, intoleransi, terorisme, radikalisme, anarkisme dan premanisme,” pungkas Gus Wal.
(SWR)







