Caption : Ketum PNIB ‘AR Waluyo Wasis Nugroho menyikapi anjloknya nilai tukar rupiah.
REMBANG – JATENG, ASPIRANEWS.ID -Ketua Umum Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB), AR Waluyo Wasis Nugroho, menyoroti anjloknya nilai tukar rupiah yang disebut telah menyentuh angka Rp17.665 per dolar AS. Menurutnya, kondisi tersebut bukan sekadar fluktuasi ekonomi biasa, melainkan sinyal serius melemahnya stabilitas ekonomi nasional yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat kecil, baik di desa maupun di kota,Senin(18/05/26).
Gus Wal menegaskan bahwa pelemahan rupiah tidak bisa dipandang sederhana dengan alasan masyarakat desa tidak bertransaksi menggunakan dolar AS dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, dampak melemahnya mata uang nasional tetap terasa melalui kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya produksi.
“Rakyat desa memang tidak transaksi memakai dolar, tetapi harga pupuk naik, BBM naik, sembako ikut naik, dan biaya distribusi meningkat. Jadi dampak pelemahan rupiah bukan hanya dirasakan pelaku pasar atau pengusaha besar, melainkan justru paling berat dirasakan rakyat kecil,” tegasnya dalam keterangannya.
Ia menilai melemahnya rupiah menunjukkan ketahanan ekonomi nasional masih rentan di tengah tekanan global serta belum optimalnya langkah antisipasi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.
“Kalau rupiah terus melemah, harga barang impor akan naik, biaya produksi industri meningkat, UMKM semakin tertekan, petani kesulitan memperoleh pupuk, nelayan terbebani harga solar, dan rakyat kecil dipaksa bertahan dengan penghasilan yang stagnan. Ini bukan teori ekonomi, tetapi realitas di lapangan,” ujarnya.
Menurut Gus Wal, dampak pelemahan rupiah tidak hanya berhenti pada persoalan ekonomi, tetapi juga berpotensi memicu keresahan sosial apabila tidak segera direspons dengan kebijakan konkret.
“Ketika harga kebutuhan pokok terus naik sementara daya beli masyarakat menurun, ketimpangan sosial akan semakin tajam. Kemiskinan bisa meningkat dan keresahan masyarakat meluas. Pemerintah tidak boleh hanya membangun narasi optimisme, tetapi harus hadir dengan solusi nyata,” ungkapnya.
PNIB mendorong pemerintah mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, di antaranya memperkuat cadangan devisa, mengendalikan impor nonproduktif, melindungi sektor pertanian dan UMKM, serta menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.
Selain itu, Gus Wal meminta para pejabat negara lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan di tengah kondisi ekonomi yang sensitif. Ia menilai komunikasi publik pemerintah harus mampu menenangkan masyarakat dan menunjukkan keberpihakan kepada rakyat kecil.
“Bagi masyarakat kecil, pelemahan rupiah bukan sekadar angka di layar monitor ekonomi, tetapi soal kemampuan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mulai dari membeli beras, pupuk, hingga minyak goreng,” ujarnya.
PNIB juga mengingatkan agar situasi ekonomi yang sulit tidak dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menyebarkan provokasi, radikalisme, maupun tindakan yang dapat mengganggu stabilitas nasional.
Menurut Gus Wal, pemerintah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk propaganda yang memanfaatkan keresahan masyarakat melalui media sosial, platform digital, maupun aktivitas provokatif berkedok isu kemanusiaan.
“Kalau negara gagal menjaga stabilitas ekonomi, maka yang paling terdampak bukan elite, melainkan rakyat biasa seperti petani, buruh, nelayan, pedagang kecil, dan masyarakat menengah bawah,” tuturnya.
(SWR)





