Caption : Ketua Umum PNIB apresiasi kepada Detasemen Khusus (Densus) 88 atas langkah deteksi dini dan penegakan hukum terhadap dugaan jaringan terorisme di Indonesia, Jum’at (9/10/26).
SURABAYA (JATIM) , ASPIRANEWS.ID –
Jumat 9 Oktober 2026,Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) menyampaikan apresiasi kepada Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri atas langkah deteksi dini dan penegakan hukum terhadap dugaan jaringan terorisme di Indonesia. Apresiasi tersebut disampaikan menyusul penangkapan 11 tersangka dugaan tindak pidana terorisme secara serentak di enam provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Riau, dan Maluku Utara.
Ketua Umum PNIB, Abdur Rozaq Waluyo Wasis Nugroho atau yang akrab disapa Gus Wal, mengatakan langkah aparat tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman terorisme masih perlu diwaspadai. Menurutnya, deteksi dini dan penegakan hukum yang dilakukan secara profesional merupakan bagian penting dalam mencegah berkembangnya ancaman menjadi aksi kekerasan yang dapat membahayakan masyarakat.
“Terima kasih Densus 88. Kerja deteksi dini dan penegakan hukum seperti ini sangat penting untuk menjaga Indonesia tetap aman dan mencegah ancaman sebelum berkembang menjadi aksi kekerasan dan terorisme,” ujar Gus Wal.
Berdasarkan informasi penyidikan yang disampaikan dalam rilis tersebut, para tersangka diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan yang terafiliasi dengan paham Daulah Islamiyah dan jaringan terorisme lainnya. Polisi juga disebut mendalami dugaan konsolidasi jaringan, indoktrinasi, propaganda, perekrutan melalui pertemuan langsung maupun media sosial, serta kegiatan pelatihan fisik dan menembak. Namun, dugaan tersebut masih harus dibuktikan melalui proses hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
Gus Wal menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kewaspadaan terhadap ancaman terorisme tidak cukup hanya berfokus pada aksi kekerasan yang telah terjadi. Menurutnya, dugaan penyebaran propaganda, indoktrinasi, dan perekrutan melalui ruang digital, termasuk media sosial dan permainan daring (game online), juga perlu menjadi perhatian bersama. “Jangan menunggu bom meledak atau korban berjatuhan baru kita bergerak. Pencegahan, deteksi dini, dan penegakan hukum justru harus dilakukan sejak ada indikasi jaringan sedang membangun kekuatan,” tegasnya.
PNIB juga mengajak masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh propaganda ekstremisme serta tidak memberi ruang bagi berkembangnya ideologi kekerasan. Gus Wal menegaskan pentingnya menjaga persatuan, memperkuat pendidikan kebangsaan, dan merawat harmoni dalam keberagaman. “Indonesia harus terus dijaga sebagai rumah bersama. Kita lawan terorisme, radikalisme, intoleransi, khilafah, dan segala bentuk kekerasan melalui penegakan hukum, pendidikan, persatuan, harmoni kebinekaan, dan penguatan kebangsaan,” pungkas Gus Wal.
(SWR)





