Oleh : Nasruddin Aziz (Penikmat Kopi di Manggala)
Manggala , Aspiranews.id – Dunia hari ini sedang menyaksikan guncangan hebat di Timur Tengah, namun untuk memahaminya secara jernih, kita harus kembali ke titik nol pasca-banjir besar Nabi Nuh AS. Beliau ibarat Bendungan Raksasa pertama peradaban baru yang memiliki tiga putra sebagai saluran utama populasi dunia yaitu Yafet, Ham dan Sam. Dari bendungan purba ini, air kehidupan ibaratnya dialirkan melalui tiga kanal utama: Kanal Yafet yang mengalir ke Utara (Eropa), Kanal Ham ke Selatan (Afrika), dan Kanal Sam yang menetap di wilayah Tengah. Dari jalur Sam inilah lahir sang “Pintu Air Utama ” sejarah, Nabi Ibrahim AS, yang membagi alirannya menjadi dua cabang utama: Satu jalur melalui Ismail AS (cikal bakal bangsa Arab) dan satu lagi melalui Ishaq AS yang menurunkan Ya’qub AS yang menyandang gelar kehormatan “Israel” (Hamba Allah) yang menjadi hulu bagi keluarga besar Bani Israel (Bangsa Ibrani) di tanah Palestina.
Maka, dalam catatan Kitab Suci (Bible dan Al-Quran), identitas Bani Israel (Anak-Cucu Israel) sejatinya adalah entitas religious, mereka adalah umat pilihan pada masanya yang dibimbing nabi-nabi besar seperti Musa, Daud, hingga Sulaiman untuk membawa “Perintah Langit” berupa keadilan. Namun, seiring berjalannya waktu ribuan tahun, bangsa Bani Israel ini mengalami pendangkalan Sejarah yang parah, suku-sukunya terpencar dalam diaspora panjang hingga identitas murninya melebur ke dalam berbagai bangsa di dunia.
Penting bagi kita untuk membedakan antara Bani Israel versi sejarah para Nabi dengan Negara Israel Modern saat ini. Bani Israel adalah ikatan iman dan nasab kuno, sementara Negara Israel yang lahir pada 1948 adalah entitas politik-nasionalis sekuler hasil pergerakan modern di Eropa. Di sisi lain, kita mengenal Persia—peradaban megah keturunan Sam dan Yafet yang memiliki akar ribuan tahun sebelum akhirnya bertransformasi menjadi Negara Iran hari ini. Pertikaian antara Israel dan Iran saat ini ibarat benturan antara klaim “hak sejarah kuno” dengan “ideologi perlawanan” masa kini yang memperebutkan kendali atas aliran pengaruh di kawasan tersebut.
Dalam dinamika ini, kita tidak bisa mengabaikan peran Amerika Serikat (AS) mewakili keturunan dari Kanal Yafet yang telah melanglang buana. Kehadiran AS sering kali menciptakan “kekeruhan” karena mereka tidak bertindak sebagai pengawas irigasi yang adil, mereka sangat ketat menyegel pintu air di Iran, namun menutup mata saat terjadi kebocoran (pelanggaran kemanusiaan) di bendungan Israel yang menggenangi lahan petani Palestina.
Untuk memudahkan kita memahaminya, bayangkanlah seluruh rangkaian sejarah ini sebagai sebuah Sistem Irigasi Raksasa. Masalah muncul ketika sebuah kelompok pengelola air modern datang mengklaim kembali “Hak Guna Air” dari sungai purba ribuan tahun lalu, namun mereka membangun bendungan betonnya tepat di atas lahan petani lain yang sudah berabad-abad menetap di sana. Hal ini memicu amarah dari penjaga hulu lain, yaitu Iran, yang merasa aliran air di kawasan tersebut sedang dikeruhkan oleh kepentingan luar.
Pertempuran rudal hari ini ibarat dua pihak yang saling melemparkan batu-batu besar ke tengah kolam. Perlu kita sadari sepenuhnya, bahwa “kolam” yang sedang mereka kotori itu adalah Peradaban Internasional yang kita huni bersama. Bumi kita saat ini bukan lagi sekadar kumpulan daratan yang terpisah, melainkan sebuah ekosistem tunggal yang saling terhubung, baik melalui jaringan ekonomi, energi, hingga informasi. Ketika “batu” konflik dilemparkan di Timur Tengah, riaknya menciptakan turbulensi yang menggetarkan harga pangan, stabilitas keamanan, hingga ketenangan batin kita yang jauh di Manggala. Kita semua meminum dari “mata air” kedamaian yang sama, sehingga ketika kolam peradaban ini dikeruhkan oleh limbah permusuhan, seluruh penghuni kolam akan ikut merasakan air yang pahit.
Pada akhirnya, di hadapan secangkir kopi di Teras rumah yang tenang di Manggala, saya menyadari bahwa kita semua, baik yang berada di Teheran, Tel Aviv, Washington, hingga Makassar adalah tetesan air yang berasal dari bendungan yang sama, Keluarga Nabi Nuh AS. Ribuan tahun sejarah telah memisahkan kita ke dalam kanal-kanal yang berbeda, namun hari ini kita dipaksa sadar bahwa kita menghuni satu kolam peradaban global yang sama.
Sejarah dari Nuh hingga Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan bahwa air Tuhan itu universal. Tugas kita sebagai manusia modern, bukanlah membangun bendungan eksklusif yang mematikan hak hidup orang lain, melainkan menjadi penjaga kejernihan kolam peradaban ini.
Harapan kita adalah agar keturunan Sam, Ham, dan Yafet ini berhenti saling mengeruhkan air dengan batu-batu kebencian. Kita merindukan saat di mana aliran air dari hulu Nuh kembali jernih, mengalir tanpa sekat ego kekuasaan, sehingga setiap manusia bisa mereguk kedamaian di tepian sungai kehidupan yang satu ini. Sebab jika kolam ini hancur, tidak akan ada pihak yang menang, kita semua, anak cucu Nuh, akan tenggelam dalam keruhnya air yang kita kotori sendiri.(AM)






