JAKARTA , ASPIRANEWS.ID — Sindikat Intelijen Nahdlatul Ulama (SIN) melalui Koordinator Abdur Rozaq menyoroti beredarnya surat undangan dari Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) tertanggal 17 Agustus 2026, yang ditujukan kepada sejumlah kiai sepuh menjelang Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026. Sejumlah nama yang disebut antara lain KH Nurul Huda Djazuli, KH Mustofa Bisri (Gus Mus), KH Said Aqil Siroj, KH Anwar Mansyur, dan KH Ma’ruf Amin. SIN mempertanyakan urgensi pertemuan tersebut di tengah waktu pelaksanaan muktamar yang tinggal hitungan hari, terlebih surat itu disebut hanya ditandatangani Gus Yahya tanpa tanda tangan bersama Rais Aam PBNU KH Miftachul Ahyar,Kamis(20/08/26).
Menurut Abdur Rozaq, posisi Gus Yahya sebagai petahana sekaligus salah satu kandidat Ketua Umum PBNU periode mendatang membuat setiap langkahnya menjelang muktamar berpotensi dibaca sebagai bagian dari kontestasi. Ia menilai undangan kepada para kiai sepuh yang memiliki pengaruh moral besar dapat menimbulkan berbagai tafsir, apakah murni untuk kepentingan organisasi atau berkaitan dengan upaya membangun dukungan. SIN juga mempertanyakan penggunaan tanda tangan tunggal Ketua Umum PBNU dalam agenda yang dinilai strategis. Menurutnya, apabila undangan tersebut merupakan urusan kelembagaan yang menyangkut kepentingan strategis NU, semestinya melibatkan unsur Syuriyah. “Dalam tradisi NU, ada adab dan tata krama yang dijunjung tinggi. Tanda tangan tunggal Ketua Tanfidziyah tanpa melibatkan pimpinan Syuriyah dalam urusan yang menyangkut para kiai sepuh bisa dinilai tidak elok, bahkan su’ul adab,” ujar Abdur Rozaq.
SIN juga menyoroti status dan kewenangan para kiai sepuh yang diundang. Mereka dinilai bukan Mustasyar PBNU dalam pengertian struktural sebagaimana diatur dalam Pasal 14 Ayat 2 AD NU, yakni penasihat yang berada dalam struktur pengurus besar dan memberikan nasihat, baik diminta maupun tidak. Kekhawatiran semakin menguat karena isu Ahlul Halli Wal-Aqdi (AHWA) menjadi salah satu agenda penting menjelang Muktamar ke-35. AHWA merupakan dewan ulama yang dipilih dalam muktamar untuk menjalankan mekanisme pemilihan Rais Aam. SIN menyebut beredarnya sejumlah versi usulan nama anggota AHWA yang disebut memiliki kemiripan dengan nama-nama dalam surat undangan tersebut perlu dicermati. Menurut Abdur Rozaq, kini beredar tiga versi AHWA yang dikaitkan dengan Ketua Umum PBNU, Sekjen PBNU, dan Ketua Umum DPP PKB, sehingga hubungan antara undangan dan dinamika AHWA dinilai patut mendapat perhatian.
Kekhawatiran mengenai penggunaan pengaruh para kiai sepuh juga pernah disampaikan pengamat politik Adi Prayitno, Direktur Parameter Politik Indonesia (PPI), dalam podcast Channel Nahdliyin Bersatu dan Padasuka TV. Ia menilai para kiai sepuh pada dasarnya merupakan tokoh yang alim, mukhlish, dan memikirkan kemaslahatan NU serta umat. Namun, menurutnya, terdapat kekhawatiran terhadap pihak-pihak yang memanfaatkan kewibawaan para kiai untuk kepentingan tertentu. Fenomena tersebut, kata Abdur Rozaq, perlu menjadi perhatian agar para kiai sepuh tetap ditempatkan di atas kepentingan kelompok maupun kubu dalam kontestasi organisasi. “Kiai sepuh sejatinya berada di atas kepentingan golongan dan seluruh kepentingan NU,” ujarnya.
Abdur Rozaq menegaskan bahwa Muktamar merupakan forum permusyawaratan tertinggi NU yang seharusnya menjadi ruang bagi seluruh elemen organisasi, termasuk PWNU, PCNU, dan PCINU, untuk menentukan arah organisasi secara kolektif. Menurutnya, keputusan strategis mengenai mekanisme pemilihan Ketua Umum maupun pembentukan AHWA semestinya dikembalikan kepada mekanisme resmi yang telah diatur dalam AD/ART dan dibahas dalam forum muktamar. “Kami mengajak seluruh pihak menjaga marwah dan kemurnian perjuangan NU. Jangan biarkan muktamar yang seharusnya menjadi ajang musyawarah untuk kemaslahatan umat ternodai oleh kepentingan sesaat. Kembalikan kepercayaan kepada mekanisme organisasi dan hormatilah para kiai sepuh sebagai pemegang otoritas moral, bukan sebagai alat politik,” pungkas Abdur Rozaq. Wallahu a’lam bisshawab. (Swr)





