Caption : Pengurus PNIB salurkan air bersih kewarga Bojonegoro,Selasa(01/09/26).
BOJONEGORO (JATIM), ASPIRANEWS.ID – 2 September 2026,Kontras antara melimpahnya sumber daya minyak bumi dan masih adanya masyarakat yang mengalami krisis air bersih menjadi perhatian Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB). Melalui aksi kemanusiaan dan gotong royong bakti sosial, PNIB menyalurkan sebanyak 99.999 liter air bersih kepada warga terdampak kekeringan di sejumlah wilayah Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Bantuan tersebut diangkut menggunakan 11 tangki berkapasitas sekitar 9.700 liter dan didistribusikan ke sejumlah titik, yakni Desa Nganti meliputi Dukuh Tukbuntung, Dukuh Jati dan Dukuh Jeding, Desa Sugihwaras di Dukuh Sambirobyong, Desa Jumok di Dukuh Banyu Urip, serta Desa Ngraho.
Ketua Umum PNIB AR Waluyo Wasis Nugroho alias Gus Wal mengatakan, aksi tersebut bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap persoalan krisis air bersih yang menurutnya telah berlangsung selama puluhan tahun. Ia menilai persoalan tersebut membutuhkan perhatian dan solusi jangka panjang dari berbagai pihak. “Jangan sampai kekayaan minyak bumi Bojonegoro terus diambil, sementara masyarakat Bojonegoro, Jawa Timur dan Indonesia masih harus berjuang mati-matian mendapatkan air bersih,” ujar Gus Wal kepada awak media, Selasa (1/9/2026).Ia juga menyinggung aktivitas industri ekstraktif, termasuk ExxonMobil, yang telah lama beraktivitas dalam eksploitasi minyak bumi di Bojonegoro. Menurutnya, keberadaan dan aktivitas perusahaan besar semestinya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan dasar seperti air bersih.
Gus Wal mempertanyakan sejauh mana kekayaan sumber daya alam yang berada di wilayah Bojonegoro benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat setempat. “Jangan sampai rakyat hanya menjadi penonton hasil sumber daya alamnya dieksploitasi di tanahnya sendiri, namun tak dapat merasakan dan menikmati kekayaan tanahnya sendiri,” tegasnya. Menurut Gus Wal, besarnya aktivitas eksploitasi sumber daya alam di Bojonegoro harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penyelesaian persoalan mendasar yang masih dihadapi warga. Ia berharap kehadiran perusahaan dan industri di daerah penghasil sumber daya alam dapat semakin memperkuat kontribusi sosial dan pembangunan bagi masyarakat.
99.999 liter air bersih, lanjut Gus Wal, juga bukan sekadar angka. PNIB sengaja memilih angka tersebut sebagai simbol yang dikaitkan dengan identitas Nahdlatul Ulama (NU) melalui simbol bintang sembilan. Bantuan tersebut sekaligus menjadi doa dan harapan dalam momentum Muktamar NU ke-35 yang berlangsung 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, yang melahirkan kepemimpinan baru dengan terpilihnya KH Miftahul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum PBNU.
Menurutnya, aksi kemanusiaan tersebut menunjukkan bahwa perbedaan pilihan politik, pandangan, latar belakang maupun kepentingan tidak boleh mengalahkan kepedulian terhadap sesama.
“Di dunia ini tidak ada yang lebih penting daripada kemanusiaan, kepedulian, cinta, kasih sayang dan persatuan,” kata Gus Wal.
Ia menegaskan, berbagai momentum seperti musibah, bencana, Maulid Nabi Muhammad SAW, HUT ke-81 Kemerdekaan RI maupun Muktamar NU ke-35 semestinya diterjemahkan dalam aksi nyata berupa kepedulian, gotong royong, persaudaraan, kerukunan, kedamaian dan persatuan. “Indonesia aman, Indonesia makmur, Indonesia damai. Merdeka rakyatnya, sejahtera kehidupannya, dan kuat persatuannya,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa bangsa Indonesia tidak boleh kehilangan fondasi kemanusiaan. “Yang lebih penting dari ekonomi, politik dan kekuasaan adalah cinta, kasih sayang dan kemanusiaan,” pungkasnya. Pesan tersebut menjadi penutup aksi PNIB di Bojonegoro: ketika rakyat membutuhkan air, jangan tanya siapa mereka, tetapi hadir, membantu dan menempatkan kemanusiaan di atas segala perbedaan.
(SWR)







