Pertemuan Kiai Said dan Kiai Imam Jazuli, Sinyal Konsolidasi Jelang Muktamar ke-35 NU

Caption : Pertemuan dua tokoh besar NU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj (Kanan) dengan KH. Imam Jazuli, Lc., MA.(Kiri)di Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Cirebon, Sabtu (13/6/2026), 

 

 

Oleh: Hussen Sanusi.

CIREBON , ASPIRANEWS.ID – Pertemuan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj dengan KH. Imam Jazuli, Lc., MA. di Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Cirebon, Sabtu (13/6/2026), menjadi perhatian banyak kalangan Nahdliyin menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Pertemuan yang dikemas dalam agenda Workshop Transformasi Pesantren tersebut dinilai memiliki makna strategis di tengah dinamika internal organisasi.

Secara formal, kegiatan itu mempertemukan para pengasuh pesantren untuk membahas penguatan tata kelola dan transformasi pesantren di era modern. Namun, dalam perspektif politik jam’iyah, kehadiran dua tokoh berpengaruh NU dalam satu forum memunculkan berbagai tafsir mengenai arah konsolidasi menjelang Muktamar mendatang.
KH. Said Aqil Siradj yang dikenal sebagai mantan Ketua Umum PBNU dua periode disebut-sebut sebagai salah satu figur kuat untuk posisi Rais Aam. Sementara KH. Imam Jazuli selama ini dikenal aktif menyuarakan pentingnya kemandirian organisasi, penguatan ekonomi pesantren, serta mendorong berbagai gagasan perubahan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Dalam pandangan sejumlah pengamat, pertemuan tersebut dapat dibaca sebagai upaya membangun komunikasi dan konsolidasi antarjaringan pesantren. Kehadiran para kiai dari berbagai daerah, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Barat, menunjukkan bahwa pesantren masih menjadi basis penting dalam menentukan arah kepemimpinan NU di masa depan.
Ada sejumlah kemungkinan yang dapat dibaca dari dinamika tersebut. Pertama, munculnya penguatan dukungan terhadap KH. Said Aqil Siradj sebagai figur yang dinilai memiliki kapasitas dan pengalaman memimpin jajaran Syuriyah PBNU. Kedua, terbentuknya poros komunikasi baru yang berupaya menghadirkan alternatif kepemimpinan dan gagasan pembaruan dalam tubuh organisasi.
Terlepas dari berbagai spekulasi yang berkembang, pertemuan di BIMA Cirebon memperlihatkan bahwa proses konsolidasi menuju Muktamar ke-35 NU tidak hanya berlangsung di level elite, tetapi juga bergerak melalui jaringan pesantren dan akar rumput Nahdliyin. Hal ini menunjukkan bahwa masa depan organisasi sedang dibicarakan dan dirumuskan dari berbagai ruang, termasuk dari lingkungan pesantren yang selama ini menjadi basis utama NU.
Sinergi antara ketokohan KH. Said Aqil Siradj dan KH. Imam Jazuli memperlihatkan adanya semangat untuk memperkuat peran pesantren sebagai pusat pengembangan keilmuan, kemandirian ekonomi, dan kaderisasi kepemimpinan. Pertemuan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa dinamika menuju Muktamar ke-35 NU akan semakin menarik untuk dicermati dalam beberapa bulan ke depan.
Oleh: Hussen Sanusi Pemerhati Sosial Keagamaan dan Ke-NU-an

Baca Juga:  DPP PJS Tegas Tolak Wartawan Bodrex, Pemerasan Berujung Pemecatan

Pos terkait