Gus Fahrur : Muktamar NU Yang Terpenting Bukan Lokasinya, tetapi Kualitas Penyelenggaraannya

Caption :Dr.H.Ahmad Fahrur Rozi menyatakan Muktamar NU yang terpenting bukan lokasinya, tetapi kualitas penyelenggaraannya,Kamis (26/06/26).

 

MALANG – JATIM, ASPIRANEWS.ID  – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, muncul berbagai pandangan mengenai lokasi yang paling tepat untuk menjadi tuan rumah. Menurut saya, seluruh daerah yang telah diusulkan memiliki peluang yang sama dan patut dihormati. Yang terpenting bukan di mana Muktamar diselenggarakan, melainkan apakah lokasi tersebut memenuhi kriteria yang telah ditetapkan, seperti kapasitas tempat, akses transportasi, akomodasi, keamanan, serta kesiapan panitia dalam melayani para muktamirin dan penggembira,Kamis (25/06/26).

Karena itu, kita tidak perlu mempertentangkan satu daerah dengan daerah lainnya. Siapa pun yang nanti ditetapkan sebagai tuan rumah, itulah pilihan terbaik yang harus kita dukung bersama demi suksesnya Muktamar.

Baca Juga:  Sertifikasi Uji Kompetensi Kehumasan Pada Anev Konsolidasi Humas Polri T.A 2024

Secara pribadi, saya tentu memiliki kedekatan emosional dengan Pondok Pesantren Lirboyo. Saya pernah menimba ilmu di sana selama delapan tahun, bahkan keluarga saya menjadi bagian dari keluarga besar pendirinya melalui jalinan pernikahan. Jika Muktamar dilaksanakan di Lirboyo, tentu saya akan merasa senang karena lebih dekat dengan rumah dan memiliki banyak kenangan indah di tempat tersebut.

Namun kedekatan emosional itu tidak boleh memengaruhi sikap objektif. Jika hasil penilaian menunjukkan bahwa daerah lain lebih memenuhi kriteria sebagai tuan rumah, maka itulah yang patut kita dukung bersama. Kepentingan organisasi harus selalu berada di atas kepentingan pribadi maupun kedekatan geografis.

Demikian pula mengenai kepemimpinan PBNU. Jangan sampai kita terjebak pada anggapan bahwa lokasi Muktamar akan menentukan siapa yang terpilih menjadi Ketua Umum. Sejarah NU menunjukkan bahwa asumsi tersebut tidak selalu terbukti. Pada Muktamar di Lampung, misalnya, banyak pihak memperkirakan petahana akan lebih diuntungkan karena faktor lokasi dan penyelenggaraan. Namun pada akhirnya, keputusan tetap berada di tangan para muktamirin.

Baca Juga:  DPD dan DPC PJS se Sumsel Siap Gelar UKW Akbar

Sebagai orang yang beriman, kita meyakini bahwa manusia hanya berikhtiar melalui mekanisme organisasi yang baik, sedangkan hasil akhirnya berada dalam kehendak Allah SWT. Siapa pun yang kelak terpilih sebagai Ketua Umum PBNU adalah kader terbaik yang memperoleh amanah dari para muktamirin sesuai dengan ketentuan Allah SWT.

Karena itu, marilah kita fokus menyukseskan Muktamar dengan menjaga persaudaraan, menghormati seluruh calon tuan rumah, dan menerima hasil keputusan organisasi dengan lapang dada. NU akan tetap besar bukan karena lokasi Muktamarnya, tetapi karena kedewasaan warganya dalam menjaga persatuan dan marwah jam’iyah ujar Dr.H.Ahmad Fahrur Rozi.

(SWR)

Pos terkait