Caption ; Foto bersama saat kegiatan bedah buku Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdliyyah di Jakarta Rabu (5/8/2026).
JAKARTA , ASPIRANEWS.ID – Pengasuh Pondok Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli, menegaskan bahwa masa depan Nahdlatul Ulama (NU) sangat ditentukan oleh fikroh atau cara berpikir warga dan para pengurusnya. Menurutnya, kejayaan NU pada abad kedua harus dibangun melalui transformasi pemikiran, metode, dan gerakan yang mampu menjawab tantangan zaman.
Hal itu disampaikan KH Imam Jazuli saat menjadi narasumber dalam bedah buku Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdliyyah dalam Perspektif KH Ma’ruf Amin di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Menurutnya, menjadi warga Nahdlatul Ulama atau Nahdliyin tidak cukup hanya karena faktor keturunan maupun hubungan kekeluargaan. Identitas ke-NU-an juga harus dibangun melalui kesadaran intelektual, ideologis, dan gerakan yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Buku ini unik, menarik, dan spesial karena berbicara tentang bagaimana ber-NU. Ber-NU tidak cukup hanya karena keturunan, kekerabatan, atau keluarga, tetapi juga harus berlandaskan pada kesadaran, intelektualitas, dan ideologi,” ujar KH Imam dalam keterangan tertulis, Kamis (6/8/2026).
Fikroh Menjadi Fondasi Perubahan
KH Imam menjelaskan bahwa buku tersebut menempatkan fikroh sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban NU. Menurutnya, berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam, seperti keterbelakangan, kemiskinan, dan kebodohan, berakar dari pola pikir yang kurang tepat.
Ia menilai pola pikir fatalistik menjadi salah satu penyebab umat sulit keluar dari berbagai persoalan. Karena itu, warga NU diajak membangun fikroh yang moderat (tawassuth), tidak ekstrem maupun liberal, namun tetap berpijak pada khazanah keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (turats).
“Semangat yang dibangun buku ini adalah mengajak kita memiliki fikroh yang benar. Turats tetap menjadi pijakan, tetapi harus dipahami secara kontekstual, bukan sekadar tekstual,” katanya.
Teks Agama Harus Berdialog dengan Realitas
Pada aspek manhaj, KH Imam menekankan pentingnya membaca teks keagamaan sesuai dengan dinamika masyarakat. Menurutnya, teks agama harus terus berdialog dengan perkembangan zaman agar tetap menghadirkan kemaslahatan.
Ia mencontohkan Imam Syafi’i yang memiliki qaul qadim dan qaul jadid sebagai bukti bahwa perubahan konteks sosial dapat melahirkan ijtihad baru.
“Sayangnya, sekarang kita sering hanya kembali kepada qaul lama, padahal yang dibutuhkan adalah kesadaran untuk melakukan kontekstualisasi terhadap teks keagamaan,” ujarnya.
Semangat Islah dan Tajdid
KH Imam menilai benang merah buku tersebut terletak pada ajakan untuk melakukan islah (perbaikan) dan tajdid (pembaruan). Ia mengaku beberapa kali berdiskusi langsung dengan KH Ma’ruf Amin dan merasakan keprihatinan beliau terhadap masih kuatnya kejumudan cara berpikir di kalangan umat.
“Beliau berkali-kali mengajak kepada semangat al-islah ila ma huwal aslah, bergerak menuju keadaan yang lebih baik. Buku ini mengajak warga NU berani melakukan perubahan karena zaman sudah berubah,” ungkapnya.
Ia juga melihat adanya irisan pemikiran antara KH Ma’ruf Amin dan pemikir Islam Hasan Hanafi, terutama mengenai pentingnya reinterpretasi tradisi agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern.
Dakwah Harus Beradaptasi dengan Era Digital
Dalam aspek harakah, KH Imam menegaskan bahwa metode dakwah NU harus mampu mengikuti perkembangan teknologi dan digitalisasi.
Menurutnya, masyarakat kini hidup di era media sosial sehingga dakwah tidak lagi cukup dilakukan melalui pendekatan konvensional.
“Tidak cukup warga NU berdakwah dengan cara lama. Hari ini orang sudah menggunakan digitalisasi dan media sosial. NU juga harus mampu beradaptasi dengan perubahan itu,” katanya.
Harakah Siyasah Dinilai Penting
KH Imam juga menyoroti belum banyaknya pembahasan mengenai harakah siyasah dalam buku tersebut. Menurutnya, perjalanan KH Ma’ruf Amin sebagai ulama, organisatoris, anggota DPR RI, hingga Wakil Presiden RI menunjukkan bahwa politik dapat menjadi bagian dari pengabdian kepada agama, organisasi, dan bangsa.
Ia berpandangan organisasi sebesar NU memerlukan strategi politik yang sehat, berkeadaban, dan berorientasi pada kemaslahatan agar mampu menjaga kesinambungan perjuangan organisasi.
“Politik dimaknai oleh KH Ma’ruf sebagai khidmah kepada agama, jam’iyah, dan bangsa. Sebuah ideologi besar tidak akan bertahan kuat tanpa didukung kekuatan siyasah. Karena itu, harakah siyasah menjadi bagian penting untuk membangun jam’iyah NU di masa depan,” pungkasnya.(Swr).






