PNIB: Selamatkan Generasi Muda dari Krisis Identitas dan Paparan Intoleransi, Kekerasan, Bullying, Khilafah dan Terorisme di Ruang Digital
JAKARTA , ASPIRANEWS.ID – 23 Agustus 2026, Ketua Umum Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB), AR Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal, mengingatkan bahwa Indonesia menghadapi tantangan serius berupa krisis identitas di kalangan generasi muda. Menurutnya, sebagian Generasi Z, generasi milenial, bahkan masyarakat secara umum mulai mengalami keterasingan dari akar jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. Gus Wal menilai kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus dihadapi tokoh masyarakat, tokoh agama, negarawan, pendidik, akademisi, keluarga hingga organisasi kemasyarakatan dengan memperkuat karakter dan identitas generasi muda berdasarkan nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, semangat Merah Putih serta kekayaan budaya Nusantara. “Apabila generasi muda kehilangan akar identitasnya, mereka akan lebih mudah dipengaruhi berbagai ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan. Karena itu, penguatan karakter nasionalisme kebangsaan yang sesuai dengan falsafah Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi gerakan bersama seluruh komponen bangsa,” ujar Gus Wal.
Menurut Gus Wal, ruang digital kini menjadi salah satu medan yang perlu mendapat perhatian serius karena anak-anak dan remaja semakin akrab dengan gadget, media sosial, game online serta berbagai platform digital yang memberikan akses informasi dan interaksi tanpa batas. PNIB berpandangan bahwa lingkungan digital tanpa pendampingan orang tua, pendidikan literasi digital dan penguatan nilai kebangsaan dapat menjadi saluran penyebaran paham yang bertentangan dengan ideologi negara. Karena itu, Gus Wal menekankan pentingnya pengawasan, edukasi dan sinergi seluruh pemangku kepentingan untuk melindungi generasi muda dari konten yang mengandung intoleransi, bullying, kekerasan, ujaran kebencian, propaganda ekstremisme, terorisme, radikalisme, anarkisme maupun paham khilafah yang dinilai dapat mengancam persatuan bangsa.
Selain itu, PNIB mendorong pemerintah dan aparat penegak hukum memperkuat kebijakan perlindungan anak di ruang digital. Gus Wal menilai kementerian yang membidangi komunikasi dan digital bersama lembaga terkait perlu memperkuat regulasi mengenai penggunaan gadget, akun digital, media sosial dan game online bagi anak-anak serta remaja, khususnya mereka yang belum berusia 17 tahun. Menurutnya, perlindungan tersebut dapat dilakukan melalui mekanisme verifikasi usia, pengawasan konten, penguatan kontrol orang tua, pendidikan literasi digital serta langkah pencegahan terhadap penyebaran konten yang mengandung ujaran kebencian, ajakan kekerasan, bullying dan propaganda ideologi ekstrem. “Negara memiliki kewajiban untuk menghadirkan ruang digital yang aman bagi generasi penerus. Perlindungan terhadap anak-anak Indonesia tidak cukup dilakukan di dunia nyata, tetapi juga harus diwujudkan di ruang digital yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
PNIB juga mengajak masyarakat tidak menyerahkan pendidikan karakter sepenuhnya kepada sekolah maupun pemerintah. Menurut Gus Wal, keluarga tetap menjadi benteng pertama dalam menanamkan nilai kebangsaan, toleransi, cinta tanah air, penghormatan terhadap keberagaman serta kecintaan terhadap Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Di tengah derasnya arus informasi digital, keluarga dinilai memiliki peran penting dalam membimbing anak agar mampu memilah informasi, memahami dampak penggunaan teknologi serta tidak mudah terpengaruh oleh konten yang mengarah pada kebencian, kekerasan maupun ekstremisme.
Di akhir keterangannya, Gus Wal menegaskan bahwa menjaga pelajar, anak usia dini dan generasi muda berarti menjaga masa depan Indonesia. Ia berharap seluruh elemen bangsa bergandengan tangan memperkuat pendidikan karakter, wawasan kebangsaan, literasi digital dan semangat persatuan agar generasi penerus memiliki identitas yang kuat sekaligus mampu menghadapi perkembangan teknologi secara bijak. “Kita harus memastikan ruang digital menjadi sarana mencerdaskan dan memperkuat persatuan, bukan menjadi pintu masuk bagi intoleransi, kekerasan dan paham yang mengancam keutuhan bangsa,” pungkas Gus Wal. (SWR)






