Caption:KH. Muhammad Shofwan Taj, dikenal Lora Shofwan, Pengasuh Pondok Pesantren Sembilangan, Bangkalan, Madura.
KEDIRI – JATIM, ASPIRANEWS.ID –
NU saat ini bisa dilihat perwajahannya dari para aktor yang bermain di arena Konbes dan Munas NU di Ploso, Kediri (20-22/6/2026). Dan, perwajahan NU sekarang akan mencapai puncaknya; terlihat terang saat muktamar ke-35, awal Agustus 2026. Bila wujudul hilal terjadi di arena Konbes dan Munas, maka imkanur rukyat sepenuhnya terlihat di muktamar, nanti.
Posisi dan gambaran jam’iyyah NU mulai bergeser dan terlihat banyak preman yang beraktivitas didalam jam’iyyah. Preman ini adalah mereka yang merasa bebas didalam struktur NU; tidak ingin terikat pada norma dan etika jam’iyyah, namun berkehendak memaksakan kepentingannya dengan intimidasi dan ancaman, demi ambisi pribadi.
Gambaran NU itu disampaikan oleh KH. Muhammad Shofwan Taj, dikenal Lora Shofwan, Pengasuh PP Sembilangan, Bangkalan, Madura, pesantren tertua sejak pertengahan abad 18 dan berdekatan dengan makan Syaekhona Kholil. Ia menilai NU tepat diumur 100 tahun kalender miladiyah berada dalam kondisi kritis. Awan gelap menyelimuti marwah organisasi yang didirikan oleh para wali dan ulama nusantara.
“salah satunya terlihat saat sidang pleno III konbes dan munas NU di Ploso. Bagaimana para preman organisasi bermanuver dihadapan para masyayikh NU dan sesepuh pesantren. Tanpa adab dan unggah-ungguh santri, mereka meluapkan pikiran dan sikap emosional,” kata Lora Shofwan.
“tidak hanya yang muda-muda, yang tua pun bertindak, sama. Padahal, mereka tokoh di lingkungan NU, dan memiliki pengikut tidak sedikit. Bila itu ditiru generasi berikutnya, awan gelap akan terus menyelimuti NU,” tambahnya.
Lebih lanjut KH M. Shofwan Taj menjelaskan, fenomena selama konbes dan munas menjadi cermin pragmatisme dan kapitalisasi jam’iyyah sudah menjangkiti secara akut pada struktur dan kader organisasi. Dan, kehadiran masyayikh NU dan sesepuh pesantren di tengah-tengah mereka tidak lagi dipertimbangkan dan dijadikan kompas moral berjam’iyyah.
“kalau sudah seperti ini, Hadratussyeikh KH M. Hasyim Asy’ari telah mengingatkan dalam fatwanya di kitab ‘tanbih an-nahdliyyin’ karya KH Imam Zarkasyi Junaidi, Banyuwangi tentang kerusakan NU bila pragmatisme meluas didalam jam’iyyah,” ujar Lora Shofwan.
“beruntunglah para pemimpin jam’iyyah Nahdlatul Ulama yang memperjuangkan kejayaan jam’iyyah-nya dan celakalah pemimpin yang memperkuda (menunggangi) jam’iyyah Nahdlatul Ulama untuk mengejar kepentingan pribadi,” sambungnya menukil fatwa Mbah Hasyim Asy’ari.
Yang merusak NU bukan warganya, tapi pemimpinnya, tambah Lora Shofwan. Menurutnya, kerusakan jam’iyyah NU dimulai dari kepentingan ingin berkuasa didalam NU yang digunakan untuk mendapatkan kekuasaan di pemerintahan atau akses ke oligarki. Para pemimpin NU semakin jauh untuk bisa menghadirkan NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan.
“NU sekarang bukan lagi sebagai rumah besar untuk berteduh semua warganya dan masyarakat. Tapi, dikuasai preman-preman yang ingin mendapat keuntungan pribadi dan kelompok dengan menunggangi kebesaran NU,” ungkap Lora Shofwan.
“NU sekarang tidak lagi menjadi civil society atau pusat keseimbangan strategis yang hidup ditengah masyarakat; yang berkhidmah melayani keluh kesah rakyat demi kemashalatan umat,” umbuhnya.
Bagi Lora Shofwan, dinamika pelaksanaan Konbes dan Munas NU di Ploso Kediri kemarin, telah membuka tabir yang sesungguhnya tentang NU yang ditarik sepenuhnya didalam arus besar kekuasaan. Siapa yang menariknya ?, terlihat dari para aktor yang terhubung langsung dan tidak langsung dengan kekuasaan. NU akan menjadi kecil; hidup dicelah-celah kekuatan yang mengendalikan kekuasaan.
“sepanjang pengurus PBNU menjadi pejabat politik atau mendapat posisi di kekuasaan yang diendorse atas bargaining atau kompensasi politik, maka sepanjang itu pula NU tidak bisa menegaskan posisinya sebagai pembawa risalah dan kemashlahatan umat,” kata Lora Shofwan.
“Coba lihat keputusan Muktamar ke20 NU tahun 1954. NU tegas melarang pengurus merangkap jabatan politik di pemerintahan. Kenapa ?. Pasti soal konflik kepentingan dalam membawa NU sesuai khittahnya,” pungkasnya.
(SWR)





